Anak Sudah Ikut Les, tetapi Mengapa Tetap Tidak Bisa Yah?

Share

Tidak sedikit orangtua, terutama para ibu yang mengeluhkan: “anak saya sudah ikut les loh, tapi koq hasilnya nggak kelihatan yah?”

Hal ini tentunya mengecewakan orangtua yang memiliki harapan besar agar kemampuan anak meningkat ketika anak diikutkan les. Tidak sedikit uang dan waktu yang telah dikeluarkan. Ini bahkan dapat menjadi suatu beban bagi para ibu.

Mengikutkan anak dalam kursus atau les sudah menjadi hal yang biasa saat ini. Apalagi di kota-kota besar, khususnya Jakarta sudah sangat banyak dibuka tempat-tempat kursus atau les. Orangtua memiliki banyak pilihan untuk memberikan kursus atau les apa saja kepada anaknya. Ada kursus atau les untuk  mata pelajaran, musik, tari, bahasa, komputer dan lainnya.

Tujuan orangtua dalam memberikan anak kursus atau les bermacam-macam. Ada yang bertujuan agar anak dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Ada yang kuatir anaknya tidak naik kelas. Ada yang ingin anak jadi juara di sekolah. Bahkan ada juga sebagai ajang pamer bahwa anak sudah mengikuti les ini dan les itu.

Bagi orangtua yang telah memberikan kursus atau les kepada anaknya namun belum mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, mari kita belajar melihat dari sisi anak.

Seyogyanya sebagai orangtua, kita memahami upaya dalam memberikan anak kursus atau les adalah dalam rangka menemukan potensi, kemampuan, bakat, minat, kebutuhan, sifat kepribadian, permasalahan dan kesulitan anak sesuai dengan fakta dan informasi diri anak sehingga anak dapat menggali dirinya secara utuh dan menyeluruh untuk dapat menyalurkannya dengan wajar.

Ada beberapa hal yang dapat diterapkan orangtua untuk memilih tempat kursus atau les bagi anak.

1.Referensi dari teman atau keluarga dapat lebih dipertimbangkan.

Dalam memilih tempat kursus atau les, bukan hanya sekadar yang “punya nama”, tetapi referensi dari teman, keluarga atau sahabat sebaiknya lebih dipertimbangkan.

Tidak semua tempat kursus atau les yang kecil atau bahkan langsung perorangan dijalankan dengan tidak profesional. Banyak juga dari penyelenggara ini justru lebih profesional dan penuh tanggung jawab dibandingkan tempat kursus atau les yang sudah besar.

2.Komunikasikan kepada penyelenggara, seperti apa yang kita inginkan.

Orangtua harus jeli melihat karakter anak, kira-kira seperti apa les atau guru yang sesuai dengan anak?

Misalkan, apakah anak lebih enjoy dengan guru laki-laki atau perempuan, atau anak tidak masalah dengan gender guru yang penting bisa cocok. Atau, jika anak pendiam, sebaiknya bisa pilih guru yang ramah agar anak bisa nyaman dan tidak canggung saat bertanya. Karena orangtua sudah mengerti karakter anak, jadi seharusnya ini tidak akan sulit.

3.Jangan paksa anak untuk kursus atau les.

Pada saat tertentu, anak akan jenuh dan malas untuk kursus atau les. Atau bahkan saat anak sudah capek atau sedang sakit.

Jangan paksa anak, tapi berikan alternatif untuk mengatur ulang jadwal. Berusahalah bernegosiasi dengan anak untuk mengganti jadwal les. Jangan lupa mengkonfirmasikan jadwal ulang ini.

4.Berikan reward kepada anak dan juga guru.

Salah satu parameter keberhasilan belajar anak adalah peningkatan nilai. Atau anak yang tadinya malas, takut belajar, namun setelah kursus atau les dengan guru tersebut, anak menjadi rajin dan nilainya jadi bagus.

Orangtua jangan pelit memberi pujian kepada anak atau hadiah lain yang bermanfaat sehingga anak semakin semangat belajarnya.

Demikian pula terhadap guru kursus atau les anak. Tidak ada salahnya, orangtua memberikan bingkisan kecil untuk guru sebagai rasa terima kasih. Dengan melakukan hal kecil ini akan semakin menciptakan rasa kepedulian guru terhadap anak.

Share

Related posts

Leave a Comment