Melihat Kehidupan Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar, Banten

Share

Bosan dengan wisata mainstream? Wisata alam dan budaya ke kampung Baduy bisa menjadi sebuah pilihan.

Di sana kita bisa melihat kehidupan masyarakat suku Baduy lebih dekat. Suku Baduy hingga saat ini hidup dengan tetap mempertahankan kearifan lokal serta memegang teguh nilai kepercayaan dan adat-istiadat dari para leluhurnya. Mengenal Suku Baduy mengajarkan kita makna kehidupan untuk hidup selaras dengan alam, budaya dan adat-istiadat yang dipegang teguh masyarakatnya.

Suku Baduy atau yang sering disebut Orang Badui, oleh masyarakat luar dibagi menjadi dua golongan yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Meskipun demikian, pada hakikatnya masyarakat Baduy sendiri tetap menganggap ada satu Baduy.

Orang Baduy merupakan kelompok masyarakat suku Sunda, dengan aksen Sunda Banten. Mereka hidup bersinergi dengan alam pegunungan Kendeng, desa Kanekes, Kabupaten Lebak, terletak sekitar 40 km dari Rangkasbitung. Sekalipun mereka tidak memiliki sekolah, khususnya Baduy Dalam, namun banyak di antara mereka yang bisa baca-tulis dan fasih berbahasa Indonesia.

Kampung Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar dipisahkan oleh sebuah jembatan yang terbuat dari bambu. Untuk melihat kehidupan suku Baduy dari dekat berkunjunglah ke Desa Ciboleger untuk melihat kehidupan Baduy Luar dan Desa Cibeo, Baduy Dalam yang Kepala Desanya disebut Jaro. Selama ini kita hanya melihat perbedaan secara fisik dari suku Baduy Dalam dan Baduy Luar dari cara berpakaian mereka semata, di mana Suku Baduy Dalam memakai pakaian dan ikat kepala serba putih, sedangkan suku Baduy Luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru donker.

Suku Baduy digolongkan menjadi Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar karena perbedaan mendasar dalam menjalankan aturan adat yang berlaku dalam keseharian mereka. Sampai saat ini masyarakat Baduy Dalam masih memegang kuat hidup “keapaadaan” dalam keseharian mereka dan banyak pantangan yang masih sangat ketat diberlakukan. Berbeda dengan cara hidup masyarakat Baduy Luar yang keseharian hidup mereka sudah terpapar moderenisasi.

Perbedaan Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar juga tercermin dari aturan pantangan yang sangat kuat dipegang masyarakat Suku Baduy Dalam.

Pakaian, masyarakat Baduy Dalam memakai pakaian dominasi warna putih, meski kadang ada yang memakai ikat kepala berwarna hitam. Masyarakat Baduy Luar menggunakan pakaian serba hitam atau biru donker untuk menyatakan bahwa mereka tidak lagi suci.

Teknologi, masyarakat Baduy Dalam tidak menggunakan alat-alat elektronik ketika berada di dalam kampung mereka, sementara masyarakat Baduy Luar mengenal dan menggunakan kemajuan teknologi berupa alat-alat elektronik. Di dalam perkampungan Baduy Dalam tidak diperbolehkan mengambil foto di kawasan Baduy Dalam, dan mereka juga tidak menerima wisatawan asing keturunan kaukasoid, mongoloid, dan negroid.

Pembangunan, pakaian, berladang. Masyarakat Baduy Dalam masih memegang pantangan menggunakan peralatan dari besi, misal palu, gergaji, paku, jarum. Segala kebutuhan untuk membangun rumah, membuat jembatan atau membuat pakaian dan berladang, mereka menggunakan material yang bersumber dari alam.

Penggunaan bahan kimia. Dalam keseharian masyarakat Baduy Dalam tidak diperbolehkan menggunakan sampo, sabun, parfum, kosmetik dan sebagainya termasuk pengunjung yang datang ke kampung mereka karena dianggap dapat mencemari dan merusak alam. “Yang sudah ada biarkan seperti apa adanya dan tidak perlu ditambah”, nasihat ini masih mereka pegang. Hal ini berbeda dalam kehidupan masyarakat Baduy Luar yang sudah menggunakan produk-produk yang berbahan kimia.

Sampai sekarang, masyarakat Baduy Dalam tidak mempergunakan sarana transportasi bermotor apapun dan hanya berjalan kaki untuk berpergian. Mereka juga memilih tidak menggunakan alas kaki dan tidak bepergian lebih dari 7 hari ke luar Baduy Dalam.

Walaupun berbeda, nilai luhur dalam adat Suku Baduy masih dipegang kuat dan terus diwariskan turun-temurun oleh seluruh masyarakatnya. Hal tersebut telah ditanam sedari kecil melalui pendidikan dari orangtua kepada anaknya untuk mengajarkan hidup apa adanya, kesederhanaan, kekeluargaan dan gotong royong. Di Baduy Dalam, bukan suatu hal yang aneh melihat kaum laki-lakinya jago memasak bahkan mengulek sambal, sedangkan kaum perempuannya bertugas mencuci piring atau baju.

perkampungan Baduy Luar
perkampungan Baduy Luar
Suku Baduy
perjalanan menuju Baduy Dalam
perjalanan menuju Baduy Dalam
Suku Baduy
lumbung penyimpan padi
lumbung penyimpan padi
Suku Baduy
bersama penduduk Baduy Dalam
bersama penduduk Baduy Dalam
Suku Baduy
jembatan pemisah Baduy Luar dan Baduy Dalam
jembatan pemisah Baduy Luar dan Baduy Dalam
Suku Baduy

 

Share

Related posts

Leave a Comment