Belajar Mengenal Anak dengan Autisme

Share

Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan kata autis. Sayangnya, masih banyak orang yang belum tahu apa sebenarnya autis itu. Kata autis ini sempat dijadikan satu kata untuk bercanda di masyarakat jika ada seseorang yang sedang asyik sendiri. Bahkan ada yang beranggapan anak penyandang autis itu anak idiot. Anak dengan autisme umumnya memiliki gangguan dalam hal perilaku atau hiperaktivitas motorik.

Daripada kita sok tahu dan ternyata salah, tidak ada salahnya kita belajar mengenal beberapa hal tentang anak autis.

Autis adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan adanya gangguan dalam berkomunikasi, berperilaku, emosi dan interaksi sosial.

Kondisi yang khas pada anak penyandang autis antara lain:

  • Tertawa dan menangis tanpa alasan.
  • Hiperaktif atau hipoaktif.
  • Echolalia/membeo.
  • Suka melakukan aktivitas yang berulang-ulang dan berpola.
  • Sangat terganggu jika pola aktivitasnya berubah.
  • Kontak mata sangat pendek bahkan nyaris tidak ada.
  • Menolak jika disentuh, dipeluk atau dicium.
  • Tidak menyahut atau melihat ketika dipanggil.
  • Suka melompat-lompat, memainkan jari/tangan, kaki, kepala dan mata.
  • Terpaku pada sesuatu yang bagi anak lain tidak menarik, misalnya terpaku pada pecahan/garis halus di dinding, putaran kipas angin.
  • Sekalipun memiliki kemampuan verbal, kemampuan itu tidak digunakan untuk berempati.
  • Tidak dapat memulai percakapan dan tidak dapat bertahan lama dalam suatu percakapan.
  • Nada dan intonasi suara yang berbeda dengan anak-anak lain.
  • Banyak anak yang mengalami keluhan BAB dan tidur.

Sekalipun kita melihat atau menemukan anak dengan ciri-ciri tersebut, yang berhak menentukan diagnosis seorang anak mengalami autis hanyalah psikiater anak, neurolog anak, psikolog anak atau psikolog klinis.

Hasil penelitian menemukan anak laki-laki lebih rentan mengalami autis daripada anak perempuan.

Penyebabnya adalah hormon seks, karena laki-laki lebih banyak memproduksi testosteron sementara perempuan lebih banyak memproduksi esterogen. Kedua hormon itu memiliki efek bertolak belakang terhadap suatu gen pengatur fungsi otak yang disebut retinoic acid-related orphan receptor-alpha atau RORA. Testosteron menghambat kerja RORA, sementara esterogen justru meningkatkan kinerjanya.

Terhambatnya kinerja RORA menyebabkan berbagai masalah koordinasi tubuh, antara lain terganggunya jam biologis atau circardian rythm yang berdampak pada pola tidur. Kerusakan saraf akibat stres dan inflamasi (radang) jaringan otak juga meningkat ketika aktivitas RORA terhambat.

Tingkat kemampuan anak autis biasanya dibagi dalam 2 kelompok, yaitu autis dengan tingkat kemampuan yang tinggi dan autis dengan tingkat kemampuan yang rendah.

Penggunaan istilah autis berat dan autism ringan dapat menyesatkan karena jika dikatakan berat orangtua dapat menjadi frustasi dan berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya lagi. Sebaliknya, jika dikatakan ringan maka orangtua merasa senang dan juga dapat berhenti berusaha karena merasa anaknya akan sembuh sendiri.

Pada kenyataannya, anak penyandang autis berat ataupun ringan, tanpa penanganan terpadu dan intensif, mereka sangat sulit mandiri. Dan dalam hal penanganan masing-masing anak autis memerlukan intervensi atau terapi yang berbeda.

Share

Related posts

Leave a Comment