MEMBANGUN KOMUNIKASI ASERTIF DENGAN ANAK

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Seorang anak dibawa orangtuanya ke konselor karena orangtuanya menganggap anaknya tersebut tukang bikin masalah, sudah bikin masalah besar, dan bermasalah. Orangtua merasa kewalahan berkomunikasi dengan anak. Mereka mengatakan anak pelit bicara, sekali mau bicara, bicara si anak sangat pedas, sangat kasar. Akibatnya, orangtua menjadi emosi, lalu memaki dan memukul anak. Mendapat makian dan pukulan dari orangtua ternyata tidak membuat anak berubah. Sebaliknya, anak tambah tidak mau bicara, tambah kasar, dan tambah berani melawan.

Kisah ini bukan dongeng dan bukan fiktif. Banyak keluarga yang mengalami hal seperti ini, dimana orangtua berkonflik dengan anak. Anak dinilai tidak hormat dan tidak taat kepada orangtuanya, bahkan berani berkata kasar dan melawan pada orangtuanya. Kondisi ini membuat orangtua menjadi sedih, kecewa, malu dan marah. Akibatnya, anak dimarahi, dicaci maki, dan dipukul. Hal tersebut tidak membuat anak kapok dan berubah. Sebaliknya, anak semakin menjadi-jadi, dan relasi orangtua dan anak semakin buruk. Apa yang harus dilakukan?

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, anak memerlukan didikan. Didikan merupakan kebutuhan anak. Oleh karena itu, anak harus dididik. Agar proses didikan dari orangtua kepada anak dapat berjalan dengan baik, maka harus ada relasi harmonis antara orangtua dan anak. Relasi harmonis hanya akan dapat tercipta jika ada komunikasi asertif.

Secara sederhana komunikasi asertif dapat diartikan sebagai suatu metode berkomunikasi dimana seseorang mampu mengungkapkan secara langsung perasaan, keinginan, pikiran atau pendapatnya dengan tepat, tegas dan sopan, di waktu dan tempat yang tepat, dengan tetap menghargai hak dan pendapat orang lain. Dalam komunikasi asertif orang mampu berkata ‘tidak’ pada apa yang orang katakan atau inginkan dari dirinya tanpa merasa takut, tertekan atau bersalah. Dalam komunikasi asertif, orang tidak akan malu atau terluka ketika keinganan atau pendapatnya ditolak. Dengan berkomunikasi secara asertif, maka “saya senang, kamu suka, dan kita bahagia”. Untuk dapat berkomunikasi secara asertif dengan anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

Kenali dan Pahami Anak dengan Baik

Agar komunikasi asertif antara orangtua dan anak dapat tercipta, orangtua perlu mengenal dan memahami anak dengan baik. Setiap anak berada dalam fase perkembangan, dimana setiap fase memiliki karakteristik yang khas. Anak yang dalam fase kanak-kanak, remaja dan dewasa berbeda dalam cara dan kemampuan berpikir; berbahasa dan berkomunikasi; dan dalam mengekspresikan emosi. Selain memiliki karakteristik yang umum karena fase perkembangan, orangtua juga harus memahami karakteristik yang khas dan unik pada anak. Misalnya: ada anak yang pendiam dan tidak banyak bicara sehingga perlu didorong untuk berbicara; ada anak yang royal berbicara sehingga perlu dibantu untuk mengontrol omongannya; dan ada anak yang pemalu sehingga sulit mengungkapkan perasaan, keinginan atau pendapatnya. Berbicara kepada masing-masing kelompok usia ini tentu berbeda gaya mau pun pilihan kata-kata.

Menjadi Pendengar yang Baik

Komunikasi asertif antara orangtua dan anak dapat dikembangkan jika orangtua  mampu menjadi pendengar yang baik. Mampu mendengarkan dengan baik akan membuat orangtua dapat berespon dengan tepat. Menjadi pendengar yang baik memang tidak mudah karena diperlukan keterampilan dalam mendengarkan. Hal ini menuntut konsentrasi, perhatian dan rasa empati. Jangan menyela ketika anak bicara! Selaan dapat membuat anak merasa tidak dihargai, tidak nyaman, atau jengkel. Selain itu, selaan membuat pesan tidak sampai dengan utuh. Akibatnya, orangtua akan kehilangan pesan penting dari ucapan anak dan tidak dapat berespon dengan tepat. Tunjukkan minat terhadap apa yang anak sampaikan! Caranya adalah dengan menatap secara wajar kepada anak. Fokuslah kepada anak saat ia berbicara! Jangan sambil nonton atau bermain handphone.

Orangtua memiliki kecenderungan untuk menganalisa perkataan anak dan memikirkan jawaban, komentar, atau nasihat yang hendak disampaikan. Hal ini akan membuat orangtua menjadi tidak konsentrasi sehingga kehilangan informasi penting. Anak dapat melihat ini dan merasa tidak diperhatikan dan tidak nyaman. Akibatnya, ia enggan melanjutkan percakapan dan bahkan tidak akan mau lagi berbicara atau bercerita kepada orangtua.

Menjadi Pembicara yang Baik

Orangtua dapat dikatakan sebagai pembicara yang baik apabila dapat berbicara dengan efektif. Misalnya: berbicara dengan tidak bertele-tele, tidak panjang-panjang dan tidak perlu diulang-ulang. Hindari percakapan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman! Misalnya: orangtua banyak menceritakan tentang dirinya sendiri. Anak akan menangkap ini sebagai bentuk kesombongan karena berpikir orangtua sedang memaparkan dan memamerkan prestasinya. Atau, anak berpikir orangtua sedang membanding-bandingkan dirinya dengan orangtua atau menganggap ia lemah. Akibatnya, anak menjadi marah, tersinggung, atau diremehkan.

Kata-kata yang dipakai untuk berbicara dengan anak perlu diperhatikan. Gunakanlah bahasa yang benar-benar dipahami oleh anak dan hindari penggunaan kata-kata atau kalimat negatif! Ketika anak dirasa mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak tepat, lebih baik mengkonfirmasi atau mengklarifikasi daripada mengkonfrontasi. Selalu upayakan untuk mencari tahu mengapa anak berkata, berpikir atau berpendapat demikian. Anak harus dibantu dan didorong untuk selalu berpikir dengan jernih  sebelum memutuskan sesuatu. Orangtua juga harus menghindari kalimat yang terkesan menganggap anak remeh, melemahkan semangat anak, menyalahkan, melabel, mengintimidasi, mengancam, menakut-nakuti, memaksa, atau mengkritik dengan pedas.

Selain itu, baik ketika berbicara maupun mendengarkan, orangtua harus mampu menggunakan bahasa tubuh yang  tepat. Misalnya: terlalu banyak bergerak mengesankan tidak sabar. Duduk terlalu dekat dapat membuat anak merasa jengah. Cara menatap tertentu dapat membuat anak tidak nyaman.

Membangun Kepercayaan Anak terhadap Orangtua

Pada umumnya, orangtua ingin mengetahui segala hal tentang anak-anaknya. Ini dapat dipahami karena mungkin orangtua tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya. Akan tetapi, terlalu ingin tahu (kepo) tidak baik. Anak akan merasa privasinya terancam sehingga ia menutup akses untuk orangtua. Misalnya: orangtua tertangkap basah sedang mencuri dengar percakapan anak dengan temannya; orangtua ketahuan membuka handphone anak; atau orangtua berupaya mencari informasi dari teman-teman anak. Jika ini terjadi, anak akan kesal, malu atau marah sehingga menutup akses untuk orangtua. Perlu mengkomunikasikan dan menyepakati hal-hal tertentu dengan anak. Misalnya: apakah boleh orangtua membuka dan membaca isi handphone anak? Siapa teman anak yang dapat dihubungi orangtua dalam keadaan tertentu?

Jangan “kepo” tetapi bangun kepercayaan anak terhadap orangtua! Jangan melewati batas garis yang sudah disepakati! Misalnya: HP anak terletak di atas meja makan dan anak sedang di toilet. Tiba-tiba terdengar bunyi panggilan masuk dari telepon itu. Orangtua tidak perlu menjawab panggilan itu dan tidak perlu mengintip siapa yang menelepon.  Cukup memberitahu anak bahwa teleponnya berbunyi. Lagi pula, walaupun tidak diberitahu, anak akan tahu ada panggilan masuk karena fasilitas pemberitahuan itu tersedia di HP. Tunjukkan bahwa kita adalah orangtua yang dapat menghargai privasi anak dan dapat dipercaya! Apabila anak merasa bahwa orangtuanya dapat dipercaya, maka anak akan merasa nyaman dan aman. Ini akan mendorongnya mau bercerita kepada orangtuanya.

Peka terhadap Respon Anak

Saat berbicara dengan anak, akan tampak respon anak baik berupa bahasa verbal maupun bahasa non verbal. Orangtua harus peka terhadap hal ini. Misalnya: Dari sorot matanya, air mukanya, tarikan nafasnya, atau gerakan-gerakan tubuhnya akan terlihat apakah anak setuju, tidak setuju, gembira atau kesal.

Bernegosiasi dan Memberi Perintah dengan Baik

Ada kalanya sesuatu perlu dinegosiasikan dan ada yang tidak butuh negosiasi. Misalnya: anak ingin nonton di bioskop dengan teman-temannya tanpa ditemani oleh orangtua. Orangtua dapat mempertimbangkan hal ini sebagai hal yang bisa dinegosiasikan dengan berbagai syarat. Misalnya: nonton di bioskop yang tidak terlalu jauh dari rumah; nonton dengan teman-teman anak yang dikenal baik oleh orangtua; atau nonton di jam yang tidak terlalu sore. Akan tetapi, ada hal-hal yang bersifat harus, tanpa bisa dinegosiasikan. Anak, terutama anak-anak yang masih kanak-kanak, sedang dalam proses perkembangan kognitif. Hal ini membuat mereka belum mampu memikirkan dengan baik konsekuensi dari keputusan mereka. Dalam hal ini, otoritas orangtua berperan penuh. Walaupun demikian, harus disampaikan dengan baik sehingga tidak terkesan bahwa orangtua memaksa. Jelaskan sesederhana mungkin dengan tepat dan dengan bahasa yang dipahami oleh anak! Misalnya: anak usia tiga tahun yang sedang sakit tidak bisa kita kasih pilihan mau ke dokter atau tidak, atau mau minum obat atau tidak. Sudah pasti anak kecil yang sedang sakit harus ke dokter dan minum obat. Orangtua wajib dan berhak membawa anak ke dokter dan memberi anak minum obat yang diresepkan oleh dokter.

Selalu Punya Waktu untuk Anak

Komunikasi asertif dapat dibangun jika orangtua selalu punya waktu untuk anak. Bagaimana mungkin anak dapat bercerita kepada orangtuanya jika orangtua tampak selalu sangat sibuk dan terburu-buru? Oleh karena itu, orangtua harus mengatur agar  selalu punya waktu untuk anak.  Selain itu, penting untuk memiliki waktu keluarga (family time). Saat orangtua dan anak bersama-sama dalam waktu yang santai dan menyenangkan, komunikasi asertif dan relasi harmonis antara orangtua dan anak dapat terbangun. (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment