JANGAN BIARKAN ANAK BERJUANG SENDIRI: DETEKSI DINI BUNUH DIRI PADA ANAK

Share

“Aduh kak. Serem sekali. Darah bercucuran. Pas saya buka jaketnya, ternyata banyak bekas luka sayatan di tangannya. Waktu kami bawa ke Rumah Sakit, dokter meminta membuka seluruh pakaian anak itu untuk melihat apakah ada luka di bagian lain di tubuh”. Demikian cerita teman saya. Ia berprofesi sebagai guru Bimbingan dan Konseling (BK). Hari itu ia menceritakan kepada saya tentang kejadian di mana seorang siswa mereka kedapatan melukai diri sendiri di sekolah.

Kejadian mengenaskan yang diceritakan oleh teman saya bukan satu-satunya peristiwa di mana anak melakukan upaya menyakiti diri sendiri. Fenomena menyakiti diri sendiri dan bunuh diri pada anak merupakan isu serius sehingga semakin mendapat perhatian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun dahulu dianggap jarang terjadi pada usia anak, kenyataannya kini kasus bunuh diri di kalangan anak dan remaja semakin meningkat. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama yang mengukur angka kejadian gangguan mental pada remaja 10 – 17 tahun di Indonesia, menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental (https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/). Sementara itu, data menunjukkan, 34 persen siswa SMA di Jakarta memiliki gejala gangguan mental. Sebanyak 30 persen di antaranya ditemukan memiliki gejala sering marah dan cenderung agresif (https://healthcollaborativecenter.or.id/studi-temukan-34-persen-remaja-jakarta-punya-gejala-masalah-mental/). Fenomena ini menimbulkan keprihatinan mendalam karena menunjukkan bahwa anak mengalami tekanan psikologis yang berat.

Anak-anak sering tampak ceria, polos, dan seolah tidak memiliki beban hidup. Namun, di balik senyum dan tawa mereka, bisa saja tersimpan perasaan sedih, takut, atau kesepian yang tidak mereka tahu bagaimana cara mengekspresikannya. Kasus bunuh diri pada anak dan remaja yang semakin sering terdengar saat ini adalah tanda serius bahwa banyak anak sedang berjuang sendirian. Bunuh diri pada anak adalah tindakan yang dilakukan oleh anak untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Biasanya terjadi karena anak merasa tidak ada jalan keluar dari penderitaan emosional, tekanan sosial, atau rasa tidak berharga. Fenomena ini bersifat kompleks dan biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor psikologis, sosial, dan lingkungan, antara lain: depresi, gangguan kecemasan, rasa bersalah, putus asa, rasa kesepian, kehilangan makna hidup, harga diri rendah, merasa tidak dicintai, mengalami kekerasan (fisik, psikis atau seksual), perceraian atau pertengkaran orang tua, kurang perhatian, kurang kasih sayang, tidak ada komunikasi yang harmonis dengan orang tua, pola asuh otoriter atau terlalu menekan, perundungan (bullying) baik di sekolah maupun di media sosial, tekanan akademik dan ekspektasi yang terlalu tinggi, isolasi sosial atau penolakan dari teman sebaya, dan paparan berita atau konten tentang bunuh diri di internet.

Biasanya, anak jarang secara langsung mengatakan ingin bunuh diri, tetapi ada gejala-gejala tertentu atau perubahan perilaku tertentu yang harus diwaspadai, seperti: menarik diri dari teman atau keluarga, prestasi sekolah menurun drastis, mengungkapkan rasa putus asa seperti: “Aku tidak berguna”, “Lebih baik aku tidak ada, “Aku capek hidup”, memberikan barang-barang kesayangannya kepada orang lain, perubahan drastis dalam pola makan atau tidur, dan tiba-tiba tampak “tenang” setelah periode depresi (karena sudah memutuskan untuk mengakhiri hidup).

Pencegahan bunuh diri pada anak dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat. Jangan biarkan anak berjuang sendiri! ” Ini bukan sekedar slogan, tetapi cinta kasih dan tanggung jawab terhadap anak. Anak membutuhkan kehadiran orang dewasa terutama orang tuanya, yang mau mendengarkannya dengan empati tanpa menghakimi, yang siap memahaminya sebelum menasihati. Dengarkanlah cerita anak dengan sepenuh hati! Tanyakan dengan lembut jika anak tampak sedih! “Papa lihat kamu akhir-akhir ini sering diam. Apakah ada yang membuat kamu merasa tidak nyaman Nak?” Berikan pelukan cinta kepada anak, bukan hanya penilaian, kritik apalagi tuntutan! Selain itu, anak juga perlu diajar untuk mengenali dan mengekspresikan emosi dengan sehat. Perlu juga dilakukan pembatasan, pendampingan dan pengawasan ketika anak berselancar di internet atau media sosial. Orang tua juga wajib mengetahui siapa teman-teman anak (baik di dunia nyata maupun dunia maya) dan bagaimana cara mereka berteman. Oleh karena itu, rumah yang aman dan nyaman serta komukasi terbuka antara anak dan orang tua harus dibangun. Selain mendekatkan orang tua dan anak secara emosional, adanya komunikasi terbuka dan relasi harmonis antara anak dan orang tua akan menolong orang tua mengetahui kondisi anak tanpa terkesan terlalu ingin tahu urusan anak atau “kepo”.

Tidak ada salahnya, bahkan perlu melibatkan sekolah  dalam melakukan deteksi dini bunuh diri pada  anak yang dinilai berisiko. Bila anak menunjukkan gejala depresi atau keinginan bunuh diri, orang tua harus segera mencari pertolongan profesional, seperti psikolog, konselor, atau psikiater. Jangan biarkan anak berjuang sendiri! (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment