MENCIPTAKAN RUMAH YANG KONDUSIF BAGI TUMBUH KEMBANG ANAK

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Secara umum, orang mengartikan anak sebagai individu yang belum dewasa, baik secara usia, fisik, sosial, maupun mental. Dalam perspektif psikologi, yang disebut anak adalah individu yang belum pubertas. Akan tetapi, dalam perspektif hukum Indonesia sebagaimana tertulis dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 Butir (1), anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Ciri-ciri anak umumnya adalah masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan baik fisik-motorik, kognitif, sosio-emosional, bahasa-bicara-komunikasi, dan moral-spiritual; belajar melalui pengalaman dan teladan, rentan dan memerlukan bimbingan, serta penuh rasa ingin tahu, spontan, jujur, polos, dan ekspresif. Anak sering disebut sebagai masa depan keluarga dan bangsa. Anak adalah penerus garis keturunan dan nilai keluarga. Kualitas anak-anak hari ini menentukan kualitas bangsa di masa depan.  Anak-anak yang berpendidikan, berkarakter, dan peduli kepada sesama dan lingkungan akan menjadi pemimpin yang bijak, bertanggung jawab dan berkualitas. Sebaliknya, jika generasi muda kehilangan nilai moral dan kasih, bangsa akan kehilangan arah dan kekuatan. Apa yang ditanamkan hari ini dalam diri anak-anak, itulah yang akan menentukan seperti apa dunia esok hari. Oleh karena itu, membangun anak berarti membangun masa depan keluarga dan bangsa.

Rumah memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam tumbuh kembang anak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional, sosial, moral, dan spiritual. Rumah adalah lingkungan pertama yang memberi anak rasa aman. Anak membutuhkan tempat di mana ia merasa dilindungi, diterima, dan dicintai tanpa syarat. Di rumah, anak belajar mempercayai dunia di sekitarnya. Ketika rumah penuh kekerasan, pertengkaran, atau penolakan, rasa aman anak terguncang dan berdampak pada perkembangan emosionalnya. Rasa aman ini menjadi fondasi utama agar anak bisa tumbuh percaya diri dan berani menghadapi dunia luar.

Di rumah, anak belajar tentang kasih, empati, tanggung jawab, kejujuran, dan disiplin. Keluarga adalah sekolah karakter pertama, di mana teladan orang tua menjadi “buku hidup” bagi anak. Saat orang tua saling menghormati, anak belajar menghargai. Saat orang tua menolong, anak belajar peduli. Saat orang tua memaafkan, anak belajar kasih yang sejati. Apa yang dilihat dan didengar anak di rumah, akan tertanam dalam pikirannya dan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.

Rumah juga adalah pusat pendidikan pertama dan utama bagi anak. Sebelum anak mengenal sekolah, di rumah ia belajar berbicara, bersikap, berinteraksi dan beribadah. Orang tua menjadi guru pertama dan utama yang mengajarkan nilai moral, sosial, dan spiritual. Suasana rumah yang terbuka, penuh komunikasi dan kasih, akan menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar anak.

Sayangnya, semakin sering terjadi di banyak keluarga modern di mana anak-anak tidak betah di rumah. Mereka selalu punya alasan untuk pergi dari rumah. Mereka lebih suka “nongkrong” dengan teman-temannya atau “keluyuran” di mal. Sekalipun berada di rumah, mereka cenderung mengurung diri di kamar dan sibuk dengan gawai (HP). Fenomena ini mencerminkan pergeseran fungsi rumah dan relasi keluarga. Banyak anak yang menghabiskan waktu di kamar, menonton video, bermain game, atau bersosialisasi lewat media sosial. Mereka enggan terlibat dalam kegiatan keluarga, seperti makan bersama, berbincang bersama, piknik, atau beribadah bersama keluarga. Merasa merasa bosan dan merasa tidak nyambung dengan orang tua. Ada gap yang luar biasa jauh antara anak dan orang tua. Anak merasa lebih nyaman dengan dunia digital daripada dunia nyata di rumahnya sendiri. Akibatnya, rumah tidak lagi dirasakan sebagai tempat kebersamaan dan kehangatan, melainkan hanya sebagai tempat singgah, tempat untuk tidur, tempat untuk mengambil uang (ATM), dan tempat untuk makan.

Fenomena ini biasanya muncul karena kombinasi berbagai faktor. Orang tua sibuk dengan pekerjaan, anak sibuk dengan sekolah dan gawai. Akhirnya, ada jarak emosional yang jauh antara orang tua dan anak. Rumah yang kehilangan suasana kasih dan kebersamaan berpotensi membuat anak “kabur” dari rumah. Rumah yang penuh kekerasan, kritik, kasar, atau konflik membuat anak merasa tidak nyaman dan membuatnya “lari”. Ketergantungan anak dengan digital juga dapat membuat anak “hilang” dari rumah. Anak mencari kesenangan instan dan validasi di dunia maya, yang menurut mereka terasa lebih mudah daripada berelasi di dunia nyata. Selain itu, kurangnya waktu keluarga (family time) yang berkualitas untuk melakukan kegiatan bersama yang disukai bersama berisiko membuat anak tidak nyaman bahkan tidak mau tinggal di rumah. Tidak ada waktu untuk bermain, ngobrol dan beribadah bersama membuat anak tidak menemukan makna berada di rumah.

Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi banyak keluarga modern dewasa ini. Jika orang tua tidak mau kehilangan anak-anaknya, maka orang tua harus menghidupkan kembali fungsi rumah sebagai ruang relasi, bukan sekadar tempat tinggal, sehingga kondusif bagi tumbuh kembang anak. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, antara lain: Pertama: Orang tua harus hadir secara utuh untuk anak. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan hati. Kedua: Bangun waktu kebersamaan (family time) secara rutin, seperti: makan bersama, beribadah bersama, olahraga bersama, piknik, berbelanja bersama, berkebun, berbagi cerita harian, dan lain-lain. Ketiga: Kurangi kecanduan digital bersama-sama. Buatlah aturan seimbang untuk semua anggota keluarga, termasuk orang tua! Keempat: Bangun komunikasi asertif, terbuka dan positif di mana baik orang tua maupun anak memiliki kesempatan dan ruang yang memadai untuk menyampaikan perasanaan, pikiran, dan keinginannya tanpa takut dimarahi atau dicela. Dengan komunikasi asertif, semua anggota keluarga tetap merasa nyaman dan dihormati meskipun orang lain tidak setuju, menolak atau memiliki pandangan lain terhadap pendapat mereka. Kelima: “Runtuhkanlah” rumah yang penuh kekerasan, tuntutan tak masuk akal, peraturan yang sangat keras, kritik, dan larangan yang tidak jelas! Ciptakanlah rumah yang hangat, penuh kasih, penerimaan, penghormatan, pengampunan, dan dukungan yang sehat!

Ketika rumah kehilangan kasih, penghormatan, penerimaan, kehangatan dan keceriaan, anak akan lari ke tempat lain. Namun, ketika rumah penuh dengan cinta kasih dan penerimaan yang hangat, anak akan menemukan bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk kembali. Rumah menjadi kondusif bagi tumbuh kembang anak. Senyaman apa pun anak di luar sana, ia akan selalu kembali ke rumah karena ia rindu orang tua dan keluarganya. Baginya, tidak ada tempat senyaman dan seaman rumahnya. (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment