Oleh: Susi Rio Panjaitan
Dengan berbagai alasan, banyak orang tua yang dengan sengaja memberikan gawai kepada anak-anak mereka, bahkan ketika anak berusia batita (di bawah usia tiga tahun). Ada berbagai alasan yang disampaikan. Ada yang mengatakan agar anak cepat pintar karena melalui gawai anak dapat belajar banyak hal. “Supaya tenang, soalnya anak saya hanya anteng kalo pegang gawai.” Demikian kata tidak sedikit orang terkait alasan mereka memberikan gawai kepada anak.
Sekitar 3 atau 2 dekade yang lalu, anak balita sering tampak dengan mainan atau botol susu di tangan, atau empeng di mulut. Pada masa itu, jika seseorang berpergian dengan anak kecil, maka ia akan membawa tas yang cuku besar, yang berisi pakaian ganti anak, susu, botol susu, empeng dan biscuit anak. Akan tetapi, di era digital ini semua berbeda. Hampir tidak dapat disangkal di mana ada anak kecil terjaga di situ ia pasti memegang gawai. Jika bepergian dengan anak, hampir dipastikan dalam tas itu ada berbagai perlengkapan digital untuk anak. Memang, banyak anak tampak sangat tenang dan serius menatap layar gawainya, bahkan dengan kening yang tampak berkerut, yang menunjukkan betapa seriusnya ia menonton atau melihat apa yang muncul di layar gawainya.
Anak akan bereaksi sesuai dengan apa yang ia tangkap dari gawai. Jika ada yang anak rasa lucu, ia akan tertawa lepas. Jika ada yang membuatnya bersemangat, ia melompat. Akan tetapi, sangat mungkin anak terstimulasi untuk marah, memaki atau melakukan gerakan-gerakan seperti memukul, menendang dan meninju. Ini menunjukkan bahwa konten yang ditampilkan di layar gawai yang dipegang anak dapat sangat memengaruhi cara berpikir, emosi, bahasa, komunikasi dan perilaku anak.
Berbicara tentang gawai tentu tidak semata bicara tentang perangkat berupa telepon genggam, komputer atau laptop, tetapi lengkap dengan daya internet yang terkoneksi ke dalamnya. Internet inilah yang memungkinkan gawai dapat tersambung dengan banyak dunia digital, baik berupa media sosial, aplikasi permainan, tontonan, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat gawai menjadi sangat menarik bagi banyak orang, termasuk anak-anak.
Dunia digital dapat dianalogikan seperti hutan rimba. Di dalam hutan rimba banyak hal-hal yang menarik, indah dan bermanfaat bagi manusia. Misalnya: udara yang bersih dan segar, air yang sejuk dan murni, bunga-bunga yang indah, buah-buahan yang lezat, dan pemandangan indah yang menyegarkan mata. Akan tetapi, di dalam hutan rimba juga banyak hal yang dapat membahaya hidup manusia. Seperti binatang buas, binatang berbisa, tumbuhan atau buah beracun, jurang yang curam, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, masuk ke dalam hutan rimba tidak boleh sembarangan. Ada syarat dan aturan yang harus dipatuhi. Misalnya: masuk dengan pendampingan pemandu, harus mengenakan pakaian tertentu atau pembawa perlengkapan tertentu. Bahkan ada daerah-daerah tertentu yang sama sekali tidak boleh didatangi karena terlalu berbahaya (misalnya banyak ular kobra).
Demikian juga dengan dunia digital. Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia digital menawarkan banyak hal yang menarik, menyenangkan dan baik bahkan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, sama halnya dengan hutan rimba, dalam dunia digital juga banyak hal-hal yang berbahaya bagi anak. Misalnya: kekerasan, penipuan, pornografi, perdagangan manusia, narkotika, perundungan, serta nilai-nilai yang tidak sesuai dengan nilai-nilai etika dan moral. Bahkan, perekrutan teroris dan kurir narkotika juga banyak dilakukan di dunia digital. Bisakah kita membayangkan apa yang sedang mengacam anak jika mereka dibiarkan masuk dunia digital tanpa pendampingan, tanpa pemahaman yang benar, dan tanpa “alat-alat keselamatan diri” yang memadai?
Di era digital orang tua diperhadapkan dengan fakta bahwa mengasuh anak tidak bisa dilakukan dengan cara total meng-copy paste pola pengasuhan yang ia terima dari orang tuanya. Setiap anak adalah unik, dan setiap masa memiliki tantangan tersendiri. Di era ini, salah satu tantangan dalam pengasuhan anak adalah dalam penggunaan digital. Walaupun gadget mengandung banyak manfaat, akan tetapi orang tua harus bijaksana. Pengasuhan anak tidak boleh diserahkan kepada gawai atau gadget (digital babysitter). Jangan hanya gara-gara supaya anak mau diam atau mau makan anak diberi gawai! Jangan sampai, bukan orang tua yang menjaga anak, tetapi anak dijaga oleh gawai.
Jika anak mau tenang atau mau makan hanya jika diberi gadget, itu artinya peran orang tua sudah digeser oleh gawai. Itu artinya, bukan orang tua yang mengasuh anak, tetapi anak diasuh oleh gadget. Jika anak lebih tenang ketika memegang gadget dari pada dipeluk oleh orang tua, itu artinya anak sedang dalam bahaya. Secara umum, perkembangan anak dapat terganggu. Misalnya: perkembangan bahasa-komunikasi dan perkembangan sosial menjadi terhambat. Anak berisiko terpapar nilai-nilai yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya, moral dan agama yang dianut keluarga. Anak juga berisiko terhisap dalam komunitas yang tidak baik. Selain itu, anak juga berisiko meniru perilaku-perilaku yang tidak sehat yang ia lihat di gawai.
Digital babysitter juga membuat hubungan orang tua dan anak menjadi jauh dan buruk. Hal ini terjadi karena waktu anak dihabiskan dengan bermain bersama gadget. Anak menjadi lebih dekat dengan gadget dari pada dengan orang tua. Ia lebih sering berinteraksi dengan gadget dari pada dengan orang tuanya. Anak lebih suka ngobrol dengan gadget dari pada dengan ibunya. Ia lebih senang bermain dengan gadget dari pada dengan ayahnya. Ia lebih suka dipeluk gadget dari pada dipeluk ayah ibunya. Tidak ada kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Oleh karena itu, digital babysitter harus dihindari. Orang tua harus mengambil alih peran, tugas dan tanggung jawab pengasuhan terhadap anak, karena memang demikianlah seharusnya. (SRP)
