AKU BERBEDA, AKU BERHARGA

Share

AKU BERHARGA, KAMU JUGA:

Tak Ada Tempat untuk Bullying

 

BAB I

AKU BERBEDA, AKU BERHARGA

 

Di sebuah sekolah dasar ada seorang anak bernama Kayla. Ia duduk di kelas lima dan sangat suka membaca buku cerita petualangan. Kayla selalu membawa buku ke mana pun ia pergi. Saat jam istirahat, Kayla lebih senang duduk di bangku taman sambil membaca. Rambut Kayla dipotong pendek seperti anak laki-laki. Ia juga memakai kacamata besar berwarna ungu. Beberapa teman menganggap penampilannya aneh. Suatu hari, seorang anak berkata: “Kenapa rambutmu seperti itu, Kayla?” Mendengar itu, anak lain ikut tertawa dan berkata: “Kamu seperti anak laki-laki!” Kayla tersenyum kecil, tetapi hatinya terasa perih. Ia sebenarnya ingin berkata sesuatu. Namun ia memilih diam dan menunduk.

Ejekan itu tidak berhenti pada hari itu saja. Keesokan harinya, saat pelajaran olahraga, beberapa anak kembali menggodanya. “Eh, Kayla, kamu mau ikut main bola atau baca buku lagi?” , kata mereka sambil tertawa. Kayla menjawab pelan: “Aku suka membaca, tetapi sekarang aku mau ikut Pelajaran olahraga.” Namun, mereka tetap tertawa dan berbisik-bisik. Kayla merasa wajahnya panas dan matanya hampir berkaca-kaca. Ia bertanya dalam hati: “Mengapa berbeda harus jadi masalah?”. Ia tidak pernah mengganggu teman-temannya. Ia hanya menjadi dirinya sendiri. Saat pulang sekolah, ia berjalan lebih lambat dari biasanya. Ia merasa sedih dan bingung. Di rumah, ia lebih banyak diam. Ibunya mulai menyadari ada yang berubah.

Malam itu, ibu duduk di samping Kayla di kamar. Ibu bertanya dengan lembut: “Kayla, ada apa di sekolah hari ini?” Kayla terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata pelan: “Teman-teman bilang aku aneh, Bu.” Ibu memegang tangan Kayla dan berkata: “Mengapa mereka bilang begitu?” Kayla menjawab: “Karena rambutku pendek dan aku suka membaca.” Ibu tersenyum hangat dan berkata: “Sayang, berbeda itu tidak salah.” Ibu melanjutkan: “Justru perbedaan membuat kita istimewa.” Kayla menatap ibunya dan bertanya: “Benarkah aku tidak aneh?” Ibu memeluknya dan berkata: “Kamu tidak aneh, kamu unik dan berharga.” Kayla mulai merasa sedikit lebih kuat. Ia memutuskan untuk mencoba berani esok hari.

Keesokan harinya di kelas, ejekan itu terdengar lagi. Seorang anak berkata: “Kayla si kutu buku datang!” Sambil tertawa, anak lain menimpali: “Nanti pas istirahat, pasti ia membaca buku lagi!” Kayla menarik napas dalam-dalam. Ia berdiri tegak dan berkata dengan suara jelas: “Aku suka membaca, dan itu membuatku senang.” Teman-temannya terdiam sejenak. Kayla melanjutkan: “Setiap orang punya hobi yang berbeda.” Ia merasa jantungnya berdebar sangat kencang. Namun ia tidak mundur. Ia berkata lagi: “Kalian boleh suka bola, dan aku boleh suka buku.” Beberapa anak mulai saling berpandangan. Guru mereka, Pak Arman, mendengar percakapan itu.

Pak Arman mendekat dan bertanya: “Apa yang sedang terjadi di sini?” Anak-anak terdiam dan tidak ada yang langsung menjawab. Kayla berkata pelan: “Pak, mereka sering mengejek saya.” Pak Arman memandang seluruh kelas dengan serius. Ia berkata: “Apakah mengejek teman itu perbuatan yang baik?” Beberapa anak menggeleng pelan. Pak Arman melanjutkan: “Setiap anak di kelas ini berharga.” Ia menambahkan: “Tidak ada yang boleh direndahkan. Perbedaan bukan alasan untuk merendahkan orang lain.” Suasana kelas menjadi hening. Pak Arman kemudian berkata: “Hari ini kita akan belajar tentang menghargai teman.” Anak-anak mulai memperhatikan. Kayla duduk dengan perasaan campur aduk.

Pak Arman menulis di papan tulis, “Aku Berbeda, Aku Berharga.” Ia bertanya: “Siapa di sini yang berbeda?” Semua anak mengangkat tangan sambil tertawa kecil. Pak Arman tersenyum dan berkata: “Bagus, berarti kita semua istimewa.” Ia menunjuk seorang anak dan bertanya: “Apa hobimu?” Anak itu menjawab: “Saya suka menggambar, Pak.”  Pak Arman menunjuk anak lain dan bertanya: “Dan kamu?” Anak itu berkata: “Saya suka bermain catur.” Pak Arman berkata: “Lihat, setiap orang punya hobi masing-masing.” Ia menambahkan: “Kalau semua sama, dunia akan membosankan.” Anak-anak mulai mengangguk. Beberapa anak terlihat berpikir.

Setelah pelajaran itu, seorang anak bernama Luna mendekati Kayla. Luna berkata pelan: “Kayla, aku sebenarnya juga suka membaca.” Kayla terkejut dan bertanya: “Benarkah?” Luna mengangguk dan berkata: “Aku cuma takut diejek.” Kayla tersenyum dan berkata: “Kita bisa membaca bersama.” Mereka tertawa kecil. Dimas, yang dulu sering mengejek, mendekat dengan wajah malu. Ia berkata: “Maaf ya, Kayla, aku tidak bermaksud jahat.” Kayla menatapnya dan berkata: “Aku memaafkanmu Dimas.” Dimas berkata lagi: “Aku ingin jadi temanmu.” Sambil tersenyum Kayla mengangguk dan berkata: “Tentu saja.” Hatinya terasa hangat.

Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan pekan bakat. Setiap murid diminta menunjukkan keterampilannya. Kayla mendaftar untuk membacakan cerita di depan sekolah. Beberapa anak berbisik: “Apa tidak membosankan?” Namun Kayla tidak gentar. Ia berdiri di panggung dengan buku di tangannya. Ia berkata dengan suara lantang: “Selamat pagi teman-teman.” Ia mulai membaca dengan penuh ekspresi. Semua anak terdiam dan mendengarkan. Suaranya jelas dan penuh perasaan. Ceritanya membuat banyak anak tersenyum. Bahkan ada yang bertepuk tangan, padahal Kayla belum selesai membaca.

Setelah Kayla selesai membaca, tepuk tangan terdengar meriah. Pak Arman berkata: “Luar biasa Kayla!” Luna berseru: “Kamu hebat sekali!” Dimas berkata: “Aku tidak bisa membaca  sekeren itu.” Kayla tersenyum lebar. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia berkata dalam hati: “Aku memang berbeda.” Ia melanjutkan dalam hati: “Tetapi berharga.” Perasaan sedih yang dulu ia rasakan mulai hilang. Ia merasa diterima. Ia merasa percaya diri. Ia tidak lagi takut menunjukkan siapa dirinya.

Sejak hari itu, suasana kelas berubah. Anak-anak mulai saling mendukung. Jika ada yang mulai mengejek, anak lain akan berkata: “Hei, itu tidak baik.” Dimas pernah berkata kepada temannya: “Kita tidak boleh membully.” Luna juga berkata: “Semua orang punya kelebihan.” Kayla merasa kelasnya menjadi lebih ramah. Ia tidak lagi sendirian di bangku taman. Kini ia sering membaca bersama Luna dan beberapa teman lain. Mereka berdiskusi tentang cerita favorit mereka. Mereka saling tertawa dan berbagi pendapat. Kayla merasa bahagia di sekolah. Ia merasa aman.

Suatu hari, ada murid baru bernama Leo. Leo bertubuh kecil dan suaranya pelan. Beberapa anak hampir saja mengejeknya. Namun Kayla segera berkata: “Jangan begitu, kita harus bersikap baik.” Ia mendekati Leo dan berkata: “Halo, namaku Kayla.” Leo tersenyum dan menjawab: “Namaku Leo.” Kayla berkata lagi: “Kalau kamu butuh teman, aku ada di sini.” Leo terlihat lega dan berkata: “Terima kasih ya Kayla.” Dimas juga mendekat dan berkata: “Kami temanmu.” Anak-anak lain ikut menyambut Leo. Suasana menjadi hangat. Kayla merasa bangga bisa membantu.

Di rumah, Kayla menceritakan semuanya kepada ibunya. Ia berkata: “Bu, sekarang teman-teman sudah berubah.” Ibu tersenyum dan bertanya: “Apa yang membuatmu kuat?” Kayla menjawab: “Karena Ibu bilang aku berharga.” Ibu memeluknya dan berkata: “Kamu memang berharga Nak.” Kayla berkata lagi: “Sekarang aku juga ingin membuat orang lain merasa berharga Bu.” Ibu tersenyum bangga. Ia berkata: “Itulah yang disebut keberanian.” Kayla merasa hatinya penuh sukacita. Ia sadar bahwa keberanian bukan berarti berkelahi. Keberanian berarti berkata benar. Keberanian berarti melindungi teman.

Di kelas, Pak Arman membuat poster besar bertuliskan “Kami Anti Bullying.” Semua murid menandatangani poster itu. Kayla menulis namanya dengan bangga. Dimas berkata: “Aku janji tidak mengejek lagi.” Luna berkata: “Aku akan membela teman.” Leo berkata pelan: “Teman-teman, terima kasih sudah menerima aku.” Semua anak tersenyum. Poster itu ditempel di dinding kelas. Setiap hari mereka melihatnya. Poster itu mengingatkan mereka untuk bersikap baik. Kelas itu menjadi contoh bagi kelas lain. Banyak guru memuji perubahan mereka.

Kayla kini berjalan dengan kepala tegak. Ia tidak lagi takut berbeda. Ia bahkan bangga dengan rambut pendeknya. Ia bangga dengan kacamata ungunya. Ia bangga menjadi anak yang suka membaca. Ia berkata kepada dirinya sendiri: “Aku tidak harus sama dengan orang lain.”  Ia menambahkan: “Aku hanya perlu menjadi diriku.” Teman-temannya kini melihatnya sebagai anak yang berani. Mereka sering meminta Kayla membacakan cerita. Kayla tersenyum setiap kali berdiri di depan kelas. Ia merasa percaya diri. Ia merasa damai. (YRAM)

 

Share

Related posts

Leave a Comment