MELATIH ANAK MANAJEMEN WAKTU

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

 

Di suatu sekolah, saya melihat pengumuman yang isinya kira-kira begini: “Dilarang mengantarkan PR, buku catatan, buku teks, agenda, dan perlengkapan belajar lainnya!” Apa yang ada di benak Anda jika membaca tulisan seperti ini di papan pengumuman sekolah? Ketika saya membaca tulisan itu, sesaat saya tercenung dan berpikir ada apa gerangan. Dengan tanpa mengkofirmasi kepada pihak sekolah, saya berasumsi bahwa ini adalah upaya preventif sekolah agar murid-murid di sekolah itu selalu membawa semua perlengkapan belajar atau pernah ada orang tua  yang datang ke sekolah untuk mengantarkan perlengkapan belajar anaknya yang tidak dibawa oleh sang anak. Apa pun itu, menurut saya, pengumuman tersebut adalah hal yang baik guna mendidik anak.

Kejadian di mana anak-anak tidak membawa perlengkapan belajar yang dibutuhkan atau atribut sekolah seperti dasi dan topi, sering kali terjadi karena alasan “lupa”. Alasannya sering begini: “Saya lupa”, atau “tadi sudah saya taruh di meja, tapi karena buru-buru, saya lupa masukkan ke dalam tas”. Lupa dan buru-buru adalah kata yang sering dijadikan alasan. Pertanyaannya adalah: “Mengapa lupa, mengapa buru-buru?”   Jika dicermati, lupa dan buru-buru terjadi karena anak tidak memiliki keterampilan manajemen waktu yang baik. Jika tidak segera diintervensi, ketidakmampuan melakukan manajemen waktu dengan baik akan menimbulkan masalah yang lebih kompleks, merugikan anak dan merugikan orang lain.

Selain menjadi sering terlambat datang ke sekolah dan ketinggalan perlengkapan belajar, ketidakmampuan anak dalam memanajemen waktu dengan baik berisiko menimbulkan konsekuensi negatif. Misalnya: anak mendapat teguran dari sekolah, ketinggalan pelajaran, dan mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Jika saat itu anak mendapatkan tugas tertentu, misalnya menjadi salah satu petugas upacara, maka hal ini tentu merugikan orang banyak. Jika hari itu anak bersama kelompoknya bertugas untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka, dan anak datang terlambat, atau yang ketinggalan di rumahnya adalah perlengkapan kelompok yang harus ia bawa, maka itu merugikan teman-teman kelompoknya. Alhasil, hal ini berpotensi menimbulkan kemarahan teman-temannya terhadap dirinya, konflik, ia tidak akan diajak lagi atau ditolak menjadi anggota kelompok, dan dicap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dipercaya. Berbagai lebel negatif akan dilekatkan kepadanya.

Kelak dewasa, ketidakmampuan dalam memanajemen waktu dengan baik akan membuat anak bermasalah dalam pekerjaan, bisnis, relasi sosial maupun relasi personal. Bahkan, berpotensi menimbulkan masalah psikologis pada anak. Misalnya: marah, panik, bingung, takut, dan malu. Oleh karena itu, guna mencegah hal ini terjadi, sejak dini anak perlu dilatih memanajemen waktu dengan baik. Dengan memerhatikan beberapa prinsip, anak dapat dilatih dalam memanajemen waktu dengan baik. Prinsipi-prinsip tersebut antara lain sebagai berikut:

Membuat Jadwal

Anak perlu membuat jadwal kegiatan sehari-hari, mulai bangun tidur hinggi tidur kembali di mala mini. Jadwal membuat anak menjadi teratur dan terarah. Selain itu, dengan membuat jadwal anak belajar menghargai waktu dan mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.

Membuat Perencanaan

Dengan membuat perencanaan, anak belajar melakukan sesuatu dengan baik, tanpa mengabaikan hal-hal yang harus dikerjakan atau menjadi prioritas. Misalnya: jika ingin bermain games bersama teman, maka harus direncanakan kapan, di mana, dan berapa lama mainnya. Perencanaan juga berguna untuk menghindarkan anak dari hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Selain itu, perencanaan akan menghindarkan anak dari mengerjakan sesuatu dengan mendadak. Sesuatu yang dikerjakan dengan mendadak berpotensi tidak berjalan dengan baik atau tidak mencapai hasil yang maksimal.

Membuat Prioritas

Penting untuk melatih anak menentukan prioritas. Sesuatu dinilai prioritas karena penting, harus, mendesak, dan waktunya terbatas. Contoh: mengerjakan PR yang harus dikumpulkan besok lebih prioritas dibanding dengan bermain games. Menyiapkan buku dan perlengkapan sekolah untuk besok lebih prioritas daripada jalan-jalan ke mal bersama teman.

Tidak Menunda Mengerjakan Tugas

Menunda mengerjakan tugas berisko membuat anak tidak mengerjakan tugas atau mengerjakan tugas dengan terburu-buru sehingga hasilnya tidak optimal. Anak menunda mengerjakan tugas biasanya karena beberapa faktor. Misalnya: masih banyak waktu, pekerjaan itu mudah, pekerjaan itu sedikit, menganggap konsekuensi sebagai hal yang sepele, tidak melihat manfaat dari mengerjakan pekerjaan tersebut, tidak menyukai pekerjaan terseut, atau merasa pekerjaan itu terlalu sulit untuknya. “Gampang kok PRnya”; “Sedikit kok PRnya”; “Minggu depan kok baru dikumpul”; “Ibu gurunya baik kok, ga bakal marah deh kalau tidak bikin PR”; “Ah, saya kan mau jadi pengusaha, ngapain belajar huruf sambung”; “Aduh, saya tidak suka pelajaran matematika”; atau “Susah, saya tidak bisa”. Oleh sebab itu, perlu dicari tahu apa yang membuat anak menunda mengerjakan tugasnya. Informasi tentang hal ini dapat diketahui dengan cara berbicara secara terbuka dengan anak. Jelaskan dengan baik mengapa tugas tersebut harus dikerjakan dan mengapa tidak boleh ditunda. Jika alasannya adalah karena ia merasa tugas itu terlalu sulit, bantu anak untuk melihat strategi baru, yang memungkinkannya untuk dapat mengerjakan tugas tersebut.

Memahami bahwa Segala Sesuatu Ada Waktunya dan Ada Batasnya

Anak perlu diajar untuk memahami bahwa segala sesuatu ada waktunya dan ada batasnya. Ada waktu bermain, ada waktu belajar, ada waktu istirahat, dan lain sebagainya. Segala sesuatu juga ada batas waktu atau durasinya. Misalnya: bermain tentu boleh tetapi tidak boleh terlalu lama, maksimal satu jam sehari; bermain games online boleh, tetapi sekali seminggu dengan durasi tidak lebih dari satu jam; bahkan, belajar tanpa henti dari pagi hingga malam pun tidak boleh, harus istirahat yang cukup.

Menunjukkan Contoh Positif

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, anak memerlukan figur untuk diteladani. Oleh karena itu, orang tua perlu menunjukkan model perilaku yang positif. Jika orang tua mampu memanajemen waktu dengan baik, anak akan melihat hal ini dan berpotensi meniru. (SRP)

 

Share

Related posts

Leave a Comment