MEMBANGUN RESILIENSI ANAK SEJAK DINI

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Resiliensi (daya lenting psikologis) pada anak adalah kemampuan anak untuk bertahan, bangkit kembali, dan menyesuaikan diri secara positif ketika menghadapi tekanan, kesulitan, kegagalan, atau perubahan hidup. Anak yang memiliki resilien mampu menghadapi tantangan dengan mental yang kuat, emosi yang stabil, dan sikap yang optimis, meskipun berada dalam situasi yang sulit. Ia memiliki rasa percaya diri dan tahu bahwa ia mampu mengatasi masalah; berpikir positif dan tidak mudah menyerah saat gagal; fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan situasi baru; mampu mengatur emosi dan menenangkan diri saat stres; mau mencari bantuan ketika dibutuhkan; memiliki tujuan hidup, harapan dan bersemangat untuk mencoba lagi; memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga, teman dan guru; mampu  mengelola stres dan tekanan hidup (misalnya konflik di rumah, kesulitan di sekolah, atau masalah dengan teman); terhindar dari masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, atau rendah diri; mampu belajar dari kegagalan, bukan terpuruk karenanya. Contoh anak yang memiliki resiliensi:

  • Seorang anak yang gagal dalam ujian tidak langsung merasa dirinya bodoh, tapi justru bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari dari ini?” lalu berusaha memperbaiki diri.
  • Anak yang ditolak oleh teman tidak menarik diri, tapi belajar bagaimana membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Anak yang mempunyai resiliensi bukan berarti tidak pernah sedih atau kecewa. Namun, ia tahu bagaimana mengelola perasaan tersebut dan bangkit kembali dengan semangat yang baru. Sebaliknya, ketika anak tidak memiliki resiliensi, ia cenderung mengalami kesulitan dalam menghadapi tekanan, perubahan, dan kegagalan. Ini bisa menimbulkan berbagai masalah di berbagai aspek kehidupan anak. Anak yang tidak memiliki resiliensi cenderung mudah frustrasi atau menyerah saat menghadapi tantangan; memiliki rasa cemas yang berlebihan bahkan dalam situasi biasa; rentan terhadap stres, depresi, atau perasaan tidak berdaya; sulit mengelola kemarahan atau emosi negatif lainnya; menarik diri dari pergaulan karena takut ditolak atau gagal; sulit membangun dan mempertahankan hubungan pertemanan; kurang empati, tidak dapat memahami atau menghadapi emosi orang lain; bisa menunjukkan perilaku agresif atau menutup diri sebagai bentuk pertahanan; takut gagal, sehingga enggan mencoba hal baru; prestasi belajar menurun karena kurang motivasi atau tidak tahan tekanan tugas; tidak percaya diri dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit; menunda-nunda pekerjaan karena merasa tidak mampu menyelesaikannya; menghindari tanggung jawab atau tidak bisa menghadapi konsekuensi dari tindakannya; cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan atas kegagalannya; berpotensi mengalami gangguan perilaku, seperti membangkang, berbohong, atau manipulatif; sangat tertekan ketika mengalami perubahan rutinitas (misalnya pindah sekolah atau rumah); sulit menyesuaikan diri di lingkungan baru; merasa sangat kehilangan arah jika dihadapkan pada hal-hal di luar kebiasaannya; bisa berkembang menjadi pribadi yang bergantung pada orang lain untuk membuat keputusan atau menyelesaikan masalah; tidak siap menghadapi tantangan kehidupan dewasa; dan mudah menyerah atau patah semangat saat menghadapi kegagalan.

Resiliensi tidak membuat anak kebal terhadap masalah, tetapi membantu anak bangkit kembali, belajar dari pengalaman, dan tumbuh lebih kuat. Oleh karena itu, resiliensi pada anak harus dibangun sejak dini. Ada berbagai strategi yang dapat dilakukan sebagai upaya membangun resiliensi pada anak, antara lain sebagai berikut:

Membangun Hubungan yang Aman dan Dekat dengan Anak

Anak yang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan orang tua atau keluarganya akan merasa lebih aman, percaya diri  dan berani. Oleh karena itu, orang tua harus meluangkan waktu yang berkualitas bersama anak. Dengarkan perasaannya tanpa menghakimi! Beri perhatian penuh saat anak bercerita! Validasi emosi anak! Contohnya: “Wajar kamu merasa takut/sedih.

Ajarkan Anak Kemampuan Mengelola Emosi

Anak perlu mengetahui bahwa emosi negatif boleh dirasakan, tetapi perlu dikelola secara sehat. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode sederhana seperti: “Tarik napas dalam, lalu hitung sampai 5.” Anak juga perlu diajari untuk mengenali dan menyebutkan emosinya, seperti  marah, kecewa, malu, takut. Ajari juga anak teknik mengelola emosi,  seperti journaling (menulis pikiran, perasaan dan pengalaman secara rutin dalam sebuah buku atau media digital/computer/laptop), menggambar emosi, atau menenangkan diri di suatu tempat tenang (cooling corner)!

Dorong Anak untuk Mandiri dan Bertanggung Jawab

Resiliensi tumbuh saat anak diberi kesempatan untuk mengatasi tantangan. Anak perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan sederhana. Anak juga dapat  beri tugas harian sesuai usia, seperti merapikan tempat tidur dan menyiram tanaman. Juga tidak perlu terlalu cepat menyelamatkan anak dari kesulitan.

Latih Pola Pikir Positif dan Solutif pada Anak

Anak yang memiliki resilien tidak menyerah pada kegagalan, bahkan ia akan belajar dari kegagalan tersebut. Dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa sederhana seperti: “Kamu belum bisa sekarang, tetapi kamu akan bisa.” Ajak anak juga perlu diajak untuk  menganalisis masalah dan mencari solusi bersama.  Ubah fokus dari “gagal” menjadi “belajar”!

Bangun Citra Diri dan Rasa Percaya Diri yang Positif pada Anak

Anak yang percaya pada kemampuannya cenderung lebih tahan terhadap tekanan sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pujian yang spesifik. Seperti: “Kamu hebat karena mau terus mencoba, bukan karena hasilnya.” Biarkan anak mencoba hal baru dan merasakan keberhasilan kecil! Jangan membanding-bandingkan anak dengan siapa pun, termasuk dengan saudara atau teman temannya, bahkan dengan orang tuanya sekalipun.

Ajarkan Anak Keterampilan Sosial

Anak perlu mengetahui dan memahami cara menjalin relasi, menyampaikan perasaan, dan menetapkan batas. Latih anak mengatakan “tidak” dengan sopan tetapi tegas! Latihan dapat dilakukan dengan metode bermain peran (role play). Misalnya saat menghadapi situasi sulit (misalnya: ditertawakan teman). Anak juga perlu didorong untuk menjalin persahabatan yang sehat dan suportif.

Jadilah Contoh Positif dalam Resiliensi

Anak belajar dari apa yang ia lihat, bukan hanya dari apa yang orang tua ajarkan. Oleh karena itu, orang tua perlu menunjukkan bagaimana cara orang tua menghadapi stres dengan tenang. Orang tua juga perlu menceritakan kepada anak bagaimana orang tua bangkit dari kegagalan. Orang tua perlu mengakui emosinya secara sehat. Misalnya: “Ibu sedang lelah, jadi Ibu butuh waktu untuk tenang.”

Resiliensi bukan bawaan lahir, tetapi dibentuk melalui pembelajaran dalam perjalanan hidup. Dengan strategi yang tepat, anak akan belajar membangun resiliensi dan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh tetapi tetap berempati, berani menghadapi tantangan, dan tidak mudah putus asa, sekalipun dibully,  ditolak, atau mengalami kegagalan. (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment