Oleh: Susi Rio Panjaitan Ruang sidang itu terasa sunyi. Seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun duduk menunduk di kursi terdakwa. Bajunya lusuh, wajahnya tegang, dan kedua tangannya menggenggam celana panjang yang mulai pudar warnanya. Namanya Rafi (bukan nama sebenarnya). Ia didakwa mencuri laptop dari rumah tetangganya. Dalam sidang, suaranya hampir tak terdengar. “Saya cuma mau jual, Pak Hakim. Buat bayar uang sekolah,” katanya lirih. Kisah seperti Rafi bukan hal baru. Namun yang sering terlewat adalah pertanyaan: mengapa anak seusia itu bisa sampai di kursi terdakwa? Ketika seorang anak…
Read More