Minggu (13/9/2026)
Media sosial menjadi bagian dari kehidupan anak dan remaja saat ini. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi ruang untuk berkomunikasi, berekspresi, dan mendapatkan informasi. Namun, di sisi lain, komentar tentang bentuk tubuh, berat badan, warna kulit, wajah, atau penampilan dapat dengan mudah berubah menjadi body shaming. Bagi anak yang sedang membangun pemahaman tentang dirinya sendiri, komentar yang merendahkan dapat memengaruhi rasa percaya diri, citra diri, dan kesehatan mental. Karena itu, anak perlu dibekali kemampuan untuk memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh penampilan fisik maupun penilaian orang lain di media sosial. Orang tua dan orang dewasa di sekitarnya juga memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman, mengajarkan cara merespons komentar negatif, serta membiasakan komunikasi yang menghargai tubuh dan pribadi setiap anak.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam webinar yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada Jumat, 11 September 2026, dengan topik “Melindungi Kesehatan Mental dan Citra Diri Anak dari Body Shaming di Media Sosial.” Webinar ini menghadirkan pembicara, salah satunya Susi Rio Panjaitan, untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya mendampingi anak dalam menghadapi tekanan dan komentar negatif terkait penampilan di ruang digital. Pembahasan seperti ini penting agar orang tua dan pendamping anak tidak hanya berfokus pada penggunaan media sosial secara aman, tetapi juga membantu anak membangun citra diri yang sehat, menghargai dirinya sendiri, serta memahami bahwa tubuh dan keberhargaan dirinya tidak seharusnya menjadi bahan penilaian atau ejekan orang lain.
