PENTINGNYA KONSISTENSI POLA ASUH TERHADAP ANAK AUTIS

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Sebagaimana halnya anak-anak lain yang tidak menyandang autisme, agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal, anak autis harus diasuh secara efektif. Yang menjadi pertanyaan adalah “bagaimana pola asuh yang efektif untuk diterapkan kepada anak autis?”  Agar dapat menerapkan pola asuh yang efektif terhadap anak autis dibutuhkan konsistensi. Anak autis cenderung merespons dengan cara yang berbeda, termasuk dalam memahami bahasa, emosi, dan perubahan lingkungan. Anak autis cenderung lebih mudah memahami aturan dan arahan yang  berbentuk pola. Misalnya: bangun tidur langsung mandi, setelah mandi sarapan, setelah sarapan berangkat ke sekolah, dan seterusnya.  Berubahnya pola, apalagi secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada anak, dapat membuat anak merasa tidak nyaman atau bingung.  Hal ini terjadi karena fokus visual yang kuat pada anak autis, pemrosesan informasi yang berbeda, dan kemampuan kemampuan mereka yang luar biasa dalam mengenali pola. Itulah sebabnya, ketidakkonsistenan dalam pola asuh tidak efetkif diterapkan kepada anak autis.

Anak autis sering kali merasa cemas terhadap hal-hal yang tidak terduga. Konsistensi dalam rutinitas, aturan, dan arahan dari orang tua atau pengasuh menciptakan lingkungan yang terstruktur dan dapat diprediksi. Hal ini membuat anak  merasa aman dan nyaman. Selain itu, apabila secara konsisten diterapkan juga pemberian penguatan positif (reward) terhadap perilaku yang diharapkan (positif)  dan konsekuensi terhadap perilaku yang tidak  tidak diinginkan (negatif), maka hal ini dapat membantu anak mengembangkan pemahaman tentang perilaku apa yang diharapkan darinya Tanpa konsistensi, anak autis akan kesulitan memahami sebab-akibat dari tindakannya.

Anak autis cenderung lebih mudah belajar melalui pengulangan dan rutinitas yang berpola. Konsistensi dalam mengajarkan berbagai hal, misalnya keterampilan sosial, komunikasi, dan keterampilan hidup sehari-hari, akan membuat anak lebih mudah belajar. Selain itu, inkonstistensi atau ketidakkonsistenan pola asuh berisiko memicu frustrasi atau bahkan melahirkan perilaku problematik pada anak autis. Misalnya: tantrum, melukai diri sendiri, menarik diri, merusak benda-benda yang ada di dekatnya, atau menyakiti orang lain. Konsistensi memberi batasan yang jelas, sehingga anak tahu apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak.

Di samping  hal-hal yang dijabarkan di atas, ketika anak autis tahu bahwa orang tuanya atau pengasuhnya bersikap konsisten, ia akan lebih mudah mempercayai orang dewasa di sekitarnya. Ini sangat penting dalam membangun relasi yang aman dan suportif. Itulah sebabnya, dalam mengasuh atau mendidik anak autis perlu diterapkan pola asuh yang konsisten.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan guna membangun konsistensi pola asuh terhadap anak autis, antara lain sebagai berikut:

  1. Ada Kesepakatan di Antara Orang Tua – Kesepakatan di antara orang tua terkait pola asuh yang diterapkan kepada anak merupakan salah satu kunci keefektifan pola asuh. Itulah sebabnya, orang tua perlu duduk bersama, berdiskusi dan bersepakat dalam bagaimana mengasuh anak. Jika dibutuhkan, adalah baik jika orang tua berkonsultasi kepada prosefional terkait, misalnya psikolog anak dan ahli pendidikan anak berkebutuhan khusus.
  2. Gunakan Jadwal Bergambar (Visual Schedule) – Anak autis cenderung lebih mudah memahami arahan dalam bentuk gambar yang disusun secara berurut daripada arahan verbal. Jadwal bergambar dapat menolong anak autis dalam memahami aturan atau arahan, terutama yang terkait dengan urutan. Misalnya: gambar 1 adalah gambar anak bangun tidur; gambar 2 adalah gambar mandir; gambar 3 adalah gambar berpakaian; gambar 4 adalah gambar menyisir rambut; gambar 5 adalah gambar sarapan; dan seterusnya. Gambar berurut ini memudahkan anak untuk memahami apa yang harus ia lakukan setelah bangun tidur.
  3. Terapkan Aturan yang Sama di Rumah, Sekolah dan Tempat Terapi – Aturan yang sama baik di rumah, sekolah dan tempat terapi membuat dapat membantu lebih mudah anak memahami aturan atau arahan dan tidak membuat anak bingung. Misalnya: jika di rumah tidak boleh melompat-lompat di sofa, maka aturan yang sama berlaku di sekolah dan tempat terapi. Contoh lain: jika di sekolah buang air kecil harus di toilet, maka di sekolah dan di tempat terapi pun berlaku hal yang sama. Oleh karena itu, kerja sama yang baik antar anggota keluarga, guru, dan terapi harus dibangun. Ini penting guna membangun pemahaman yang sama, tujuan yang sama dan pendekatannya seragam.
  4. Hindari Memberi Respon yang Berbeda terhadap Perilaku yang Sama – Hal ini berisiko menimbulkan kebingungan dan ketidaknyaman pada anak. Contoh: jika anak buang air kecil sembarangan (tidak di toilet) maka ia harus membersihkan lantai di mana ia buang air kecil. Hal ini berlaku tetap. Artinya, tidak boleh hari ini anak harus membersihkan lantai karena buang air kecil sembarangan, lalu besok, ketika ia buang air kecil di ruang tamu, maka orang lain yang membersihkan.
  5. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Seragam saat Memberi Instruksi atau Pujian – Salah satu karakteristik anak autis adalah memiliki keterbatasan dalam hal memhami bahsa verbal dan daya konsentrasi yang relatif pendek di banding dengan anak-anak lain yang seusianya. Oleh karena itu, aturan dan arahan kepada anak autis harus disampaikan dengan menggunakan bahasa yang singkat, padat dan jelas.
  6. Membuat Aturan dan Arahan yang Detail dan Jelas – Aturan dan arahan yang kompleks atau tidak jelas akan membingungkan anak. Alih-alih membuat anak memahami aturan atau arahan dan taat, malah berpotensi membuat anak merasa bingung, tidak nyaman dan berperilaku yang tidak dikehendaki. Misalnya menangis, marah, atau melakukan hal lain yang berbeda sama sekali.

Memberlakukan Konsekuensi – Untuk  menolong anak memahami aturan dan arahan, memotivasi anak berespon positf, dan membangun perilaku yang diharapkan, perlu diberlakukan konsekuensi. Konsekuensi negatif (hukuman) jika anak berperilaku tidak sesuai, dan konsekuensi positif (hadiah) jika anak berperilaku seperti yang diharapkan. Contoh: ketika anak mau dan mampu meletakkan pakaian kotornya ke dalam keranjang sebagaimana yang diaturkan, maka anak perlu mendapat konsekuensi positif berupa pujian atau hadiah kecil. Sebaliknya, jika anak meletakkan pakaian kotornya ke bawah kolong tempat tidur, maka ia pun perlu mendapatkan konsekuensi negatif. Harus  berhenti bermain (jika saat itu ia sedang bermain), lalu ia harus mengambil pakaian dari kolong tempat tidur dan memasukkannya ke dalam keranjang. Konfirmasi atas perilaku anak, baik positif maupun negatif dapat dilakukan dengan menggunakan simbol. Misalnya: simbol centang (ü) jika perilaku positif, dan simbol silang (x) jika perilaku tidak tepat. Simbol dapat dibuat pada kartu. Kartu yang sesuai ditunjukkan kepada anak saat anak berperilaku tertentu. Jika perilakunya sesuai, maka padanya dapat ditunjukkan kartu centang, dan jika perilakunya negatif, maka padanya dapat ditunjukkan kartu silang. Simbol untuk perilaku positif dan negatif dapat menggunakan simbol-simbol yang disukai. Misalnya jempol berdiri untuk perilaku positif, dan jempol terbail untuk perilaku negatif. Simbol-simbol ini dapat membantu anak memahami benar atau tidaknya perilakunya. (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment