TANTANGAN KOMUNIKASI PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS AKIBAT HAMBATAN INTELEKTUAL DAN PERKEMBANGAN

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Secara sederhana, anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai anak yang memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu karena kondisi tertentu dari fisik, psikis/mental, hambatan sensorik atau tingkat intelektualnya. Kondisi tertentu tersebut dapat terjadi karena hambatan perkembangan sejak dalam kandungan, proses persalinan, atau pun pasca-lahir. Ragam dari kebutuhan khusus pada anak bermacam-macam, antara lain: autisme, adhd (attention deficit hyperactivity disorder), down syndrome, slow learner, tunanetra, tunarungu, tunawicara, celebral palsy, bipolar, skizofrenia, depresi, anxietas dan anak-anak dengan hambatan belajar. Setiap ragam kebutuhan khusus tersebut memiliki karakteristik yang khas. Selain itu, setiap anak dalam suatu ragam kebutuhan khusus memiliki keunikan. Oleh karena itu, mereka tidak dapat disamakan atau dibanding-bandingan satu sama lain.
Pada anak yang memiliki kebutuhan khusus akibat hambatan intelektual dan perkembangan (seperti: autisme, adhd (attention deficit hyperactivity disorder), down syndrome, dan slow learner) terdapat beberapa kondisi terkait kemampuan mereka dalam berkomunikasi. Ada anak yang mampu berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun non verbal (misalnya anak dengan adhd), ada anak yang tidak memiliki kemampuan verbal (tidak dapat berbicara (tetapi tidak bisu)), dan ada anak yang memiliki kemampuan verbal tetapi tidak mampu secara efektif menggunakan kemampuan verbalnya untuk berkomunikasi. Non verbal dan ketidakmampuan berkomukasi dengan efektif baik secara verbal maupun non verbal padahal memiliki kemampuan verbal kerap terjadi pada anak dengan autis, adhd, down syndrome, dan celebral palsy.
Ketidakmampuan anak berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun non verbal berisiko menimbulkan berbagai masalah, antara lain: Pertama: Masalah Emosional pada Anak – Ketidakmampuan anak mengkomunikasi secara efektif apa yang ia inginkan atau rasakan membuat orang (orang tua, saudara, pengasuh, guru) tidak dapat memahami maksud anak. Hal ini dapat membuat orang tersebut tidak merespons sebagaimana yang diharapkan anak. Akibatnya, berisiko memunculkan emosi negatif pada anak seperti marah, sedih, kecewa, menangis, mengamuk, agresif, dan tantrum. Kedua: Memunculkan Emosi Negatif pada Orang lain – Karena tidak memahami apa yang dimaksud oleh anak, maka dapat berisiko membuat orang tersebut menjadi kesal sehingga membentak atau memarahi anak. Bahkan, jika kondisi pada point pertama terjadi, maka berisiko memunculkan reaksi negatif pada orang lain. Misalnya: memukul atau melakukan kekerasan dalam bentuk lain. Ketiga: Mengganggu Proses Pembelajaran – Semua proses pembelajaran sudah pasti dilakukan dengan komunikasi, baik verbal maupun non verbal. Jika anak tidak memiliki kemampuan komunikasi yang memadai, maka akan berdampak negatif pada proses pembelajaran anak. Anak tidak dapat memahami apa yang disampaikan dan diajarkan guru. Anak juga tidak mampu mengerjakan tugas-tugas belajar, tidak dapat menyerap materi pembelajaran, dan tidak mampu menyelesaikan ujian. Akibatnya, pencapaian akademik anak menjadi sangat rendah, meskipun tingkat intelektualnya tidak rendah. Keempat: Mengganggu Relasi Sosial – Komunikasi adalah alat dalam membangun relasi sosial. Jika anak tidak memiliki kemampuan komunikasi yang efektif baik secara verbal maupun non verbal, maka relasi sosial akan terganggu. Orang-orang akan menghindari atau bahkan secara terang-terangan menolak kehadiran anak dalam suatu komunitas. Selain itu, juga berisiko menimbulkan kesalahpahaman yang dapat berujung pada konflik. Kelima: Mengalami Masalah Pemenuhan Kebutuhan – Kerap kali kebutuhan kita harus kita sampaikan kepada orang lain. Pun demikian juga halnya dengan anak berkebutuhan khusus. Ketidakmampuan menyampaikan kebutuhan diri kepada orang lain berisiko membuat anak berkebutuhan khusus mengalami masalah dalam pemenuhan kebutuhannya. Misalnya: ketika merasa lapar, haus, sakit, atau saat membutuhkan sesuatu. Keenam: Berisiko Melanggar Aturan – Aturan dan sanksi akibat melanggar aturan kerap kali disampaikan secara verbal. Misalnya: aturan di rumah, aturan di sekolah, dan aturan sosial di tempat umum. Contoh: Petugas KRL mengumumkan bahwa selama di gerbong KRL penumpang tidak diperkenankan makan. Karena anak tidak memahami informasi tersebut, maka ia berisiko melanggar aturan. Ketujuh: Mengalami Kerugian bahkan Bahaya akibat Tidak Memahami Arahan atau Informasi – Arahan atau informasi, terutama dalam keadaan darurat biasanya disampaikan secara verbal. Misalnya: arahan petugas pemadam kebakaran saat terjadi kebakaran di suatu tempat, arahan polisi kepada pengguna jalan ketika demo berlangsung, serta arahan kru KRL, kru kapal dan arahan kru pesawat ketika ada masalah dalam perjalanan. Kondisi ini dapat membuat anak berisiko mengalami kerugian bahkan bahaya karena tidak memahami arahan atau informasi yang disampaikan secara lisan, dan karena tidak dapat menyampaikan informasi apa pun kepada petugas. Kedelapan: Berisiko menjadi Korban Kejahatan – Akibat ketidakmampuannya berkomunikasi secara efektif baik secara verbal maupun non verbal, anak dengan berkebutuhan khusus rentan menjadi korban kejahatan, baik korban penipuan, bullying, bahkan kejahatan seksual. Mereka tidak mampu berkata “tidak”, tidak mampu bercerita atau melapor, dan tidak mampu menyampaikan kesaksian.
Mengingat berbagai resiko yang dapat dialami oleh anak berkebutuhan khusus akibat tantangan komunikasi yang mereka hadapi, anak-anak ini perlu dilatih agar kemampuan mereka dalam berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal dapat berkembang. Sama halnya dengan anak-anak lain yang tidak disebut atau tidak dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus, dengan diberi kesempatan yang luas dan dukungan yang sesuai, kemampuan berkomunikasi pada anak-anak berkebutuhan khusus dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kapasitasnya. (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment