Minggu (30/8/2026)
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara anak dan orang tua memperoleh informasi, belajar, berkomunikasi, dan membangun relasi. Di tengah kemudahan tersebut, keluarga menghadapi tantangan baru dalam menanamkan iman kepada anak. Anak tidak hanya belajar dari orang tua, gereja, dan lingkungan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai informasi yang tersedia melalui teknologi. Karena itu, pengajaran iman dalam keluarga perlu terus bertransformasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan dasar dan nilai-nilai iman Kristen. Dalam perspektif psikologi, proses tersebut juga perlu memperhatikan tahap perkembangan anak, kebutuhan emosionalnya, cara anak belajar, serta kualitas relasi antara orang tua dan anak.
Hal inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam talkshow “Transformasi Pengajaran Iman Keluarga di Era Kecerdasan Buatan (AI)” yang diselenggarakan oleh HKBP Cawang Jakarta pada Selasa, 25 Agustus 2026. Talkshow ini menghadirkan Susi Rio Panjaitan sebagai salah seorang narasumber yang membahas topik tersebut dari perspektif psikologi. Dalam pemaparannya, Susi menekankan bahwa teknologi dan AI seharusnya tidak menggantikan peran orang tua dalam mendampingi pertumbuhan iman anak. Kehadiran orang tua, komunikasi yang terbuka, keteladanan, dan relasi yang dekat tetap menjadi bagian penting dalam proses pembentukan iman anak. AI dapat menjadi alat bantu untuk belajar dan mencari informasi, tetapi nilai, arah, dan pemaknaan tetap perlu dibangun melalui relasi nyata dalam keluarga.
Melalui pembahasan ini, keluarga diajak untuk tidak melihat AI semata-mata sebagai ancaman, tetapi juga sebagai bagian dari realitas kehidupan anak yang perlu dipahami dan diarahkan. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang membantu anak menyaring informasi, berpikir kritis, memahami nilai yang benar, serta menggunakan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dengan demikian, transformasi pengajaran iman bukan berarti menggantikan cara lama dengan teknologi, melainkan menemukan cara yang lebih relevan untuk menghadirkan iman di tengah perubahan zaman. Pada akhirnya, teknologi boleh berkembang semakin canggih, tetapi peran keluarga dalam memberikan kasih, teladan, arahan, dan pendampingan tetap tidak tergantikan.
