MENELUSURI MINAT DAN BAKAT REMAJA AUTIS

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autis adalah gangguan perkembangan neurologis  sehingga memengaruhi secara signifikan cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, berpikir, dan berperilaku. Autis disebut sebagai suatu “spectrum” karena tingkat dan jenis gejalanya sangat bervariasi antara individu yang satu dengan individu lainnya. Kondisi autistik melekat pada individu seumur hidup. Artinya, walaupun ditatalaksana sedari dini, karakteristik autis akan selalu melekat pada individu yang bersangkutan seumur hidupnya. Walaupun demikian, sama halnya dengan individu lain yang bukan penyandang autis, penyandang autis pada umumnya memiliki bakat dan minat tertentu. Bakat dan minat pada individu autis (terutama ketika mereka memasuki usia remaja) perlu ditelusuri untuk kemudian dikembangkan secara optimal.

Mengembangkan minat dan bakat remaja autis akan membawa dampak positif yang penting untuk pertumbuhan pribadi dan sosialnya. Ketika anak merasa mampu dan berhasil dalam sesuatu yang ia sukai, rasa percaya dirinya tumbuh. Bagi remaja autis yang kesulitan berkomunikasi secara verbal, minat dan bakat dapat menjadi sarana berekspresi, seperti lewat musik, menari, menggambar, melukis, bernyanyi, dan lain-lain. Selain itu, anak yang sibuk dengan aktivitas yang disukai cenderung lebih tenang, fokus, dan menunjukkan lebih sedikit perilaku yang mengganggu. Saat anak mengikuti kegiatan yang ia minati bersama orang lain (misalnya kelas menggambar, kelas musik, kelas vocal, kelas melukis,  kelas tari), itu dapat menjadi jembatan baginya untuk berinteraksi dan belajar berkomunikasi. Di samping itu, minat dan bakat yang diasah sejak dini dapat berkembang menjadi keahlian khusus yang berguna untuk pendidikan lanjutan, pekerjaan, atau kewirausahaan di masa depan. Anak lebih bersemangat dan termotivasi untuk belajar jika materi disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan minatnya.

Minat dan bakat pada banyak remaja autis sering kali tampak unik dan terbatas. Itulah sebabnya, menelusuri minat dan bakat mereka membutuhkan waktu yang belum tentu pendek, kesabaran dalam berproses, pendekatan personal, dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk berproses. Ada beberapa langkah yang dapat diambil guna menelusuri bakat dan minat remaja autis, antara lain:

Memberikan Lingkungan yang Kondusif bagi Anak

Lingkungan yang kondusif adalah lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, baik secara fisik maupun psikis. Dalam lingkungan kondusif  juga ada cinta kasih yang tulus terhadap anak, penerimaan kepada anak tanpa menuntutnya menjadi orang lain atau membanding-bandingkannya dengan orang lain, penerimaan terhadap keunikan anak sebagai individu, dan penghargaan terhadap usaha dan karya anak. Lingkungan yang kondusif akan memungkinkan anak untuk bertumbuh dan berkembang secara optimal. Itulah sebabnya, orang tua perlu menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi anak dan mendorong sekolah untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi anak.

Mengamati Perilaku Anak Sehari-hari

Guna menemukan apa yang menjadi minat dan bakat anak, maka perlu memerhatikan dengan baik kegiatan apa yang membuat anak antusias, senang, dan mau ia lakukan dengan berulang-ulang tanpa disuruh. Misalnya: membongkar pasang  benda atau mainan tertentu; menggambar; mewarnai; melukis; bernyanyi; berenang; memasak; menari; bermain musik; merekam dalam bentuk gambar, suara atau video; mengutak-atik teknologi, dan lain-lain. Hasil pengamatan perlu dibuat dalam bentuk catatan harian atau jurnal. Ini akan berguna bagi orang tua untuk melihat kembali dan melakukan analisa atau berdiksusi dengan ahli. Baik juga jika dokumentasi tersebut dibuat dalam bentuk rekaman suara atau video.Misalnya: ketika anak bernyanyi, bermain musik, menari, berenang dan lain sebagainya. Rekaman ini akan sangat menolong ketika orang tua memberikan keterangan kepada ahli, seperti ahli pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dengan adanya dokumentasi dalam bentuk rekaman, akan memudahkan ahli melihat kondisi anak.

Membuat Pengarsipan atau Dokumentasi       

Jika kegiatan anak menghasilkan produk, misalnya: gambar, lukisan, dan lain-lain, adalah baik jika produk-produk tersebut diarsipkan. Pengarsipan dapat dilakukan dengan mencantunkan tanggal dibuatnya prosuk tersebut. Misalnya: mencantumkan tanggal di belakang gambar. Jika anak melihat karyanya diarsipkan dan disimpan dengan baik, maka anak akan merasa senang karena merasa karyanya dihargai. Ini akan memotivasi anak untuk terus berkarya. Selain itu, dengan adanya pengarsipan, maka orang tua akan dapat melihat perkembangan karya anak dari waktu ke waktu.

Memberikan Kesempatan yang Seluas-luasanya kepada Anak untuk Mencoba dan Bereksplorasi

Berikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk mencoba berbagai aktivitas. Misalnya melukis, memasak, menggambar, bermain musik, berenang, olah vocal, bereksperimen, coding dasar, olahraga, menari, bermain peran, dan lain-lain. Amatilah perilaku anak selama dan setelah kegiatan. Apakah ia senang, apakah dia betah, apakah ia tampak menikmati aktivitas tersebut, apakah konsentrasinya tinggi, dan lain-lain. Ini dapat dijadikan sebagai indikator  keberminatan anak.

Menggunakan Alat Ukur Penelusuran  Minat dan Bakat

Ada berbagai alat asesmen yang dapat digunakan oleh para psikolog untuk menelusuri minat dan bakat pada remaja autis. Misalnya: WISC dan WAIS (untuk mengukur kecerdasan dan pola kekuatan individu), VAK (visual, auditory, kinesthetic) Learning Style, dan interest checklist, yang semuanya disesuaikan dengan tingkat kemampuan berkomunikasi anak.

Terbuka pada Bentuk Minat Anak yang Tampak Tidak Umum

Tidak sedikt remaja autis yang menunjukkan kesukaan melakukan suatu perilaku yang tidak umum ditemukan pada remaja-remaja lain yang tidak autis. Misalnya: melompat setinggi mungkin atau sejauh mungkin, menyelam dalam durasi yang lama, menyusun puzzle, menyusun barang-barang dengan sangat rapi dan teratur, meniup, berlari, berjalan dengan berlenggak-lenggok, dan lain sebagainya. Orang tua perlu melakukan pengamatan dan pencatatan terkait hal ini. Tidak mustahil, apa yang dianggap sebagai perilaku “aneh” pada anak adalah minat dan bakatnya. Misalnya: senang menyusun puzzle atau barang-barang bisa jadi potensi sebagai disainer; kesukaan melompat, berlari, dan melempar bisa jadi adalah potensi sebagai atlet; senang berlama-lama di dalam kolam berenang merupakan tanda potensi sebagai perenang atau penyelam; senang mengutak-atik komputer tanda potensi sebagai programmer; kesenangannya meniup bisa saja tanda ia berbakat dalam musik tiup, dan lain sebagainya. (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment