Oleh: Susi Rio Panjaitan
Anak autis adalah anak dengan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD), yaitu suatu kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara anak berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta berperilaku. Anak autis menghadapi beragam tantangan. Tantangan tersebut biasanya berbeda antara anak yang satu dengan anak yang lain. Salah satu tantangan yang biasanya dihadapi oleh anak autis adalah tantangan sensorik. Tantangan sensorik adalah suatu kondisi di mana individu kesulitan dalam menerima, mengolah, dan merespons informasi dari pancaindra (seperti sentuhan, suara, cahaya, gerakan, rasa, dan bau) dengan cara yang sesuai atau nyaman. Ini biasanya terjadi karena adanya gangguan pemrosesan sensori (sensory processing disorder), namun sering juga terdapat pada anak-anak autis.
Masalah sensorik pada anak autis meliputi:
- Hipersensitivitas (sensory over-responsivity): Anak merasa terganggu atau stres berlebihan oleh suara keras atau ramai, seperti blender, vacuum cleaner, atau suara ramai di rumah sekolah; dan juga merasa terganggu dengan cahaya terang atau cahaya berkedip-kedip, misalnya lampu neon dan lampu pohon Natal. Tekstur tertentu, seperti kain kasar, makanan berbutir, atau bahan tertentu pada pakaian juga dapat membuat anak autis merasa tidak nyaman dan stres. Bahkan, sentuhan, bahkan sentuhan ringan dapat membuat anak autis terasa mengganggu. Banyak juga anak autis yang sangat sensitif terhadap bau atau rasa tertentu. Mereka akan mual, muntah, dan akan menolak jika diberik makanan tertentu, yang beraroma atau memiliki rasa yang terlalu kuat.
- Hipo-sensitivitas (sensory under-responsivity): Anak tidak merespons rangsangan seperti suara panggilan, sentuhan, atau rasa sakit. Mereka sepertinya tidak menyadari rasa sakit atau suhu ekstrem. Anak autis juga sering mencari rangsangan, seperti bergoyang, melompat, memutar, atau menyentuh benda bertekstur. Selain itu, ada juga anak autis yang berbicara dengan suara sangat keras. Hal ini terjadi karena tidak menyadari tingkat volume suara yang sesuai. Anak-anak autis dengan kondisi hipo sensitivitas kerap kali menabrak benda atau orang. Mereka melakukan ini sebagai cara untuk merasakan sensasi.
- Mencari sensasi sensori (sensory seeking): Anak sangat suka menyentuh benda-benda, bergerak terus-menerus, atau membuat suara keras karena membutuhkan lebih banyak rangsangan sensorik.
- Kesulitan dalam integrasi sensori: Kadang anak sulit mengoordinasikan informasi dari berbagai indra sekaligus. Akibatnya, aktivitas sehari-hari seperti berpakaian, makan, atau mandi menjadi hal yang cukup sulit untuk mereka lakukan. Anak juga menjadi sulit fokus karena terganggu oleh rangsangan sensori yang tidak dapat mereka diabaikan.
- Respons emosional terhadap stimuli sensori: Rangsangan yang tampaknya biasa bagi orang lain dapat memicu kecemasan atau membuat anak menjadi tantrum. Misalnya: saat mendengar suara petir atau berada di tempat ramai. Akibatnya, anak menarik diri, menutup telinga, memejamkan mata, atau bersembunyi.
Tantangan sensori pada anak autis memengaruhi konsentrasi, interaksi sosial, kemampuan belajar, bahkan perilaku anak sehari-hari. Ini juga memengaruhi secara negatif keteranpilan bina diri mereka, seperti makan, berpakaian, mandi, toilet training, dan tidur. Agar dapat mengatasi tantangan sensoris yang mereka hadapi, anak autis harus diberi dukungan.
Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan di rumah atau sekolah guna mengatasi masalah sensori pada anak autis, antara lain sebagai berikut:
Suara (Auditori)
Tantangan:
Anak merasa tidak nyaman saat mendengar suara keras sehingga menutup telinga (hipersensitif) atau justru sering membuat suara keras sendiri (hiposensitif).
Strategi:
- Gunakan ear muff atau noise-cancelling headphone di lingkungan bising. Misalnya ketika di mal, sekolah, pasar, dan ruangan dengan live music atau konser.
- Siapkan ruang tenang di rumah atau sekolah untuk “cooling down” saat anak merasa tidak nyaman.
- Jika anak mencari suara, berikan mainan bunyi-bunyian atau alat musik yang dapat dikontrol volumenya.
- Gunakan suara yang lembut dan tenang saat memberi instruksi.
- Latih toleransi terhadap suara melalui bermain musik secara bertahap. Dapat dimulai dari suara yang lembut.
Sentuhan (Taktile)
Tantangan:
Anak merasa tidak nyaman dengan bahan-bahan tertentu. Itulah sebabnya ia menolak memakai pakaian tertentu dan tidak suka dipeluk. Atau sebaliknya, anak senang menyentuh segala hal.
Strategi:
- Biarkan anak memilih bahan pakaian, selimut atau alat makan yang nyaman baginya.
- Gunakan deep pressure, seperti pelukan kuat (jika anak suka) atau weighted blanket.
- Gunakan pakaian tanpa label di kerah karen label di kerah dapat membuat anak merasa tidak nyaman.
- Perkenalkan tekstur baru secara perlahan lewat bermain. Misalnya bermain pasir, cat jari, atau slime.
Penciuman (Olfaktori) dan Pengecapan (Gustatori)
Tantangan:
Anak sangat pemilih makanan karena bau atau rasa tertentu. Atau sebaliknya, suka mencium orang atau benda-benda.
Strategi:
- Kenalkan makanan baru secara bertahap, mulai dari melihat, mencium, menyentuh, lalu mencicipi.
- Hindari memaksa, tetapi berikan paparan berulang dalam suasana yang menyenangkan.
- Jika anak suka aroma tertentu, seperti lavender, jeruk dan lain-lain, sedikan dalam botol kecil. Ini dapat digunakan jika anak terpapar dengan aroma tertentu yang ia tidak sukai, atau ketika ia merasa tidak nyaman dengan hal lain. Aroma dalam botol tersebut dapat membuat anak merasa nyaman dan tenang.
- Hindari makanan dengan bau menyengat saat makan bersama.
- Kenalkan rasa dan aroma baru secara bertahap lewat aktivitas seperti memasak bersama.
Penglihatan (Visual)
Tantangan:
Anak sensitif dengan cahaya yang keras atau berkelap kelip sehingga memejamkan mati atau lari dari sumber cahaya. Hal lain adalah anak mudah terdistraksi dengan benda dan warna tertentu sehingga benda atau warna tersebut dapat mengalihkan konsentrasinya sehingga pekerjaannya yang ia sedang kerjakan terganggu. Misalnya: saat belajar ia terpapar dengan benda atau warna tertentu yang menarik perhatiannya. Akibatnya, proses belajarnya terganggu karena perhatiannya teralih dari belajar kepada memandangi benda tersebut.
Strategi:
- Kurangi visual yang berlebihan di ruang belajar. Hindari terlalu banyak hiasan dalam ruangan belajar atau tuang kelas.
- Gunakan pencahayaan yang lembut atau alami.
- Beri jeda waktu dari layar (gadget) secara berkala.
Gerakan dan Keseimbangan (Vestibular & Proprioseptif)
Tantangan:
Anak suka berputar, melompat tanpa henti, berlari-lari, naik turun tangga, atau justru takut naik tangga/perosotan.
Strategi:
- Siapkan waktu khusus untuk aktivitas fisik seperti melompat-lompoat di trampolin, ayunan, atau menari.
- Untuk anak yang pasif, buat permainan ringan seperti “jalan di jembatan sempit”. Jembatan sempit dapat dibuat dengan cara menempelkan lakban di lantai.
- Gunakan kursi goyang atau bola gym untuk membantu anak duduk sambil tetap mendapat bergerak-gerak.
- Hindari perubahan posisi yang terlalu mendadak.
Saat Mandi; Berpakaian; Makan
Tantangan:
Anak sulit duduk tenang, menolak mandi atau mengganti baju.
Strategi:
- Gunakan timer visual atau jam pasir dan visual rutinitas, yaitu gambar-gambar yang merupakan urutan kegiatan.
- Berikan pilihan agar anak merasa memiliki kendali. Contoh: “Kamu mau baju merah atau biru?.
- Berikan pujian atau hadiah kecil (reward) untuk setiap hal yang berhasil ia dkerjakan.
Tantangan sensori pada anak autis juga dapat diatasi melalui terapi okupasi (occupational therapy). Tentunya dengan bekerja sama dengan terapis sensori/okupasi. Terapis akan membuat program yang sesuai dengan profil sensorik anak. Anak dengan tantangan sensorik cenderung merasa lebih aman dalam struktur yang teratur. Oleh karena itu, rutinitas anak sehari-hari perlu dibuat secara konsisten. Jika anak memiliki kemampuan komunikasi baik secara verbal maupun non verbal, anak dapat diajar untuk mengenali dan mengungkapkan ketidaknyamanannya. Selain itu, adalah penting untuk menyediakan lingkungan yang nyaman sensori bagi anak autis. Ciptakan ruang khusus di rumah atau sekolah yang bebas dari rangsangan berlebihan, seperti lampu yang terlaluterang dan suara bising. (SRP)
