WASPADAI ADIKSI PORNOGRAFI PADA ANAK

Share

Oleh : Susi Rio Panjaitan

Bu, nilai anak saya  turun terus.” “Anak saya terancam tidak naik kelas.

Biasanya, itulah yang menjadi alasan mengapa para orangtua datang membawa anaknya menemui penulis. Bangun kesiangan sehingga terlambat ke sekolah, PR tak pernah dikerjakan, tugas di sekolah tidak selesai, nilai-nilai menurun drastis, melamun dan mengantuk saat belajar, tidak fokus sehingga tak nyambung ketika ditanya oleh guru dan lain-lain, merupakan keterangan lanjutan yang diberikan oleh orangtua. Ketika ditanya mengapa tak mengerjakan PR dan tak belajar dengan cukup ketika kuiz atau ujian, biasanya alasannya adalah: “main games melulu.” Main games kerap kali dijadikan  sebagai penyebab mengapa anak mengalami perubahan perilaku dan menurunnya prestasi akademik.

Setelah dilakukan asesmen, ternyata anak tidak sekedar main games, tetapi sudah terlibat sebagai konsumen pornografi. Tidak hanya itu, tetapi sudah masuk dalam kategori adiksi. Awalnya, dengan gadgetnya anak hanya bermain games, baik main sendirian (tunggal) maupun bersama-sama dengan teman-temannya yang ia sudah kenal dalam kehidupan sehari-hari (misalnya teman sekolah) ataupun teman yang dikenalnya di dunia maya. Dalam proses selanjutnya, anak terpapar pornografi, main games yang berkonten pornografi dan akhirnya adiksi terhadap pornografi.

Adiksi adalah suatu kondisi dimana seseorang sangat terikat terhadap sesuatu, baik itu kegiatan maupun zat. Keterikatan tersebut membuat orang menjadi merasa sangat tidak nyaman jika tidak selalu menggunakan/melakukannya. Bahkan, apapun akan ia lakukan demi dapat menggunakannya atau melakukannya. Akibatnya, ia mengalami beberapa perubahan seperti perubahan perilaku kea rah yang negatif, emosi, relasi sosial, preatasi sekolah, kesehatan dan lain-lain. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami adiksi akhirnya menjadi pelaku tindak pidana atau mengalami gangguan kesehatan jiwa yang sangat serius sehingga harus dirawat di pusat-pusat layanan kesehatan mental seperti Rumah Sakit Jiwa.

Adiksi biasanya dimulai dari melakukan  suatu perilaku. Karena merasa nyaman/enak dengan perilaku tersebut, maka perilaku tersebut diulang-ulang tanpa kontrol. Individu yang bersangkutan kemudian  kehilangan kendali atas perilakunya hingga akhirnya menjadi adiksi. Adiksi sangat berbahaya, merusak otak bahkan dapat menyebabkan kematian. Salah satu adiksi yang banyak dikeluhkan saat ini adalah adiksi pornografi. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi Pasal 1 Ayat (1), “Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.” Selain mengikat banyak orang dewasa, adiksi pornografi juga telah terjadi pada anak-anak. Adiksi pornografi sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dan dapat merusak masa depan anak, oleh sebab itu anak harus dilindungi dari pornografi.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak  Pasal 67A berbunyi: “Setiap Orang wajib melindungi Anak dari pengaruh pornografi dan mencegah akses Anak terhadap informasi yang mengandung unsur pornografi.” Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi Pasal 15 berbunyi: “Setiap orang berkewajiban melindungi anak dari pengaruh pornografi dan mencegah akses anak terhadap informasi pornografi.” Jadi jelas, melindungi anak dari pengaruh pornografi dan mencegah akses anak terhadap informasi yang mengandung unsur pornografi adalah kewajiban semua orang, baik itu orangtua, guru, sekolah secara lembaga dan semua anggota masyarakat. Setiap kita diperintahkan oleh negara melalui undang-undang untuk melindungi anak dari pornografi. Jika setiap orang dan lembaga berperan aktif dalam melindungi anak dari bahaya dan konten pornografi, maka angka anak yang terpapar dan kecanduan pornografi dapat ditekan bahkan menjadi tidak ada.

Di zaman digital ini pornografi sangat mudah diakses dengan gadget bahkan melalui sebuah handphone kecil. Oleh karena itu, setiap anak berisiko terpapar dan adiksi terhadap pornografi. Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai karena bisa merupakan tanda seorang anak sudah adiksi terhadap pornografi, antara lain:

  1. Sangat senang menyendiri – Pada umumnya anak-anak suka bermain bersama teman-temannya. Bahkan, anak yang dianggap pendiam pun mau bermain bersama dengan teman-temannya terutama teman-teman yang mereka nilai menyenangkan. Akan tetapi, jika seorang anak sudah adiksi terhadap pornografi, maka walaupun tadinya ia termasuk anak yang senang bermain bersama teman-temannya, ia menjadi sangat suka menyendiri. Dalam kesendirian terebut ia mengkonsumsi pornografi baik berupa gambar, video, percakapan maupun games.

 

  1. Nyaris tak bisa lepas dari handphone – Pada zaman digital pornografi semakin mudah diakses melalui handphone. Handphone cerdas (smart phone) yang terkoneksi dengan jaringan internet digunakan banyak anak untuk menyimpan dan menikmati pornografi. Pornografi dikirimkan dan diterima dari berbagai aplikasi, misalnya whatsapp. Anak-anak juga dapat mengakses pornografi melalui youtube, games dan berbagai aplikasi yang berkonten porno. Semua ini dapat diakses melalui handphone. Oleh karena itu, anak yang sudah adiksi terhadap pornografi memiliki kecenderungan tak bisa lepas dari handphone. Kemana pun mereka pergi, handphone selalu mereka bawa. Mereka tidur dengan handphone di tangan, bahkan ketika ke kamar mandi pun, mereka membawa handphone. Hal ini biasanya disebabkan oleh dua hal. Pertama, mereka takut jika ada orang yang membuka handphone mereka sehingga terbongkar apa yang ia simpan di sana dan aplikasi apa saja yang terhubung dengan handphone Kedua, ia sengaja membawa handphone ke dalam kamar mandi karena ingin mengakses pornografi di sana.

 

  1. Sangat takut jika handphonenya dipegang oleh orang lain – Pasti ada alasan mengapa anak yang sudah adiksi terhadap pornografi takut jika handphonenya dipegang oleh orang lain. Mereka tak ingin ada orang yang membuka handphone Bukan sekedar alasan menjaga privasi, tetapi karena di handphone tersebut tersimpan berbagai konten porno dan/atau terkoneksi dengan aplikasi-aplikasi pornografi. Itulah sebabnya ia tak ingin ada orang yang memegang apalagi membuka handphonenya.

 

  1. Sangat senang berada di ruangan yang tertutup – Anak yang sudah adiksi pornografi pada umumnya senang berada di ruang tertutup dan terkunci dari dalam. Dengan demikian mereka dapat dengan bebas membuka dan menikmati pornografi tanpa dilihat atau diketahui oleh siapapun.

 

  1. Panik berlebihan jika handphone “hilang” – Kepanikan yang berlebihan tampak pada anak yang adiksi pornografi saat menduga handphonenya hilang. Kepanikan muncul karena itu artinya ia kehilangan koleksi pornografi yang ia simpan di handphone atau kehilangan koneksi kepada aplikasi-aplikasi porno yang sudah terpasang di handphone Selain itu, kepanikan yang berlebihan itu terjadi karena ia takut handphonenya akan jatuh ke tangan orang lain dan orang tersebut akan membuka dan mengetahui isinya. Dengan demikian, rahasianya terbongkar. Itulah sebabnya kepanikan berkembang menjadi kemarahan dan tuduhan bahwa seseorang telah mengambil handphonenya.

 

  1. Mudah kaget – Kaget terjadi karena seseorang tidak menyadari hadirnya seseorang atau sesuatu sehingga tidak siap menghadapinya. Ketidaksadaran ini biasanya muncul karena seseorang sangat fokus terhadap sesuatu sehingga kesadarannya akan keadaan di sekitarnya sangat rendah. Anak yang sudah adiksi terhadap pornografi biasanya sangat mudah kaget terutama saat ia sedang membuka handphone/komputer/laptopnya. Besar kemungkinan ia akan marah kepada orang yang sudah membuatnya kaget.

 

  1. Marah jika ada yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya – Masuk ke dalam kamar orang lain tanpa ijin memang bukan hal yang baik. Oleh sebab itu, sejak dini anak harus diajarkan etika sehingga ia tidak masuk ke dalam kamar atau ruangan pribadi siapapun tanpa ijin dari orang yang bersangkutan. Anak yang sudah terpapar pornografi akan sangat marah jika ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Bukan semata-mata karena hal tersebut tidak sopan dan mengganggu privasinya, tetapi lebih karena ia takut tertangkap basah sedang mengkonsumsi pornografi.

 

  1. Mendadak sangat akrab dengan seseorang atau beberapa orang – Menjadi akrab dengan seorang teman bahkan dengan banyak teman tentu hal yang positif, tetapi akrab mendadak dengan seseorang atau beberapa teman layak untuk diwaspdai. Banyak anak yang adiksi terhadap pornografi punya kecenderungan mendadak akrab dengan seseorang atau beberapa orang. Orang-orang ini adalah teman-temannya sesama konsumen pornografi. Mereka saling bertukar gambar, video, link dan lain-lain yang berkonten porno, bahkan mereka menikmatinya bersama-sama.

 

  1. Suka berada di ruangan tertutup dan terkunci dengan seorang atau beberapa teman – Sedang belajar atau mengerjakan tugas kelompok biasanya merupakan alasan anak ketika ditanya mengapa teman atau teman-temannya dibawa ke kamar dan kamar tersebut terkunci. Tak ingin terganggu sehingga dapat belajar dengan fokus atau tugas kelompok dapat selesai dengan cepat adalah alasan lain yang mereka berikan. Pada anak-anak yang sudah adiksi pornografi, yang terjadi di dalam kamar bukan seperti yang mereka katakana. Di dalam kamar mereka sedang menikmati bahkan berpesta pornografi melalui video, games dan lain-lain.

 

  1. Panik bahkan marah berlebihan jika jaringan internet bermasalah – Jaringan internet yang bermasalah adalah hal yang umum dihadapi oleh para pengguna jaringan internet. Mengomel atau menggerutu adalah reaksi umum para pelanggan karena berbagai alasan. Anak yang sudah adiksi pornografi bisa menjadi panik bahkan marah berlebihan jika jaringan internet bermasalah. Selain mengumpat mereka pun akan melakukan segala cara agar mendapatkan koneksi internet. Misalnya: Jika yang bermasalah adalah wifi di rumah, maka mereka segera mengaktifkan paket internet di handphone. Jika ternyata kuota paket habis, maka dengan segera mengisi handphone dengan kuota internet. Padahal, tidak ada sesuatu yang bersifat urgent atau mendesak untuk dikerjakan dengan internet. Hal ini terjadi karena anak yang sudah adiksi pornografi tak ingin kehilangan sedetikpun kesempatan untuk menikmati pornografi.

 

  1. Senang berlama-lama di dalam kamar mandi – Banyak orang senang berlama-lama di kamar mandi saat mandi. Alasannya antara lain adalah mandi berlama-lama supaya benar-benar bersih atau senang main air. Mandi menjadi kegiatan “refreshing” bagi tubuh karena sejuk atau hangatnya air serta aroma sabun, sampo dan pasta gigi dapat menyegarkan tubuh. Tetapi bukan ini yang menjadi alasan mengapa anak yang sudah adiksi terpapar pornografi senang berlama-lama di kamar mandi. Biasanya, mereka senang berlama-lama di kamar mandi karena melakukan aktifitas seksual seperti masturbasi atau onani.

 

  1. Memiliki perbendaharaan kata-kata yang mengandung unsur seksual – Games, video dan percakapan-percakapan pornografi sudah pasti menggunakan kata-kata yang mengandung unsur seksual. Kata-kata inilah yang kemudian menjadi perbendaharaan kata yang dimiliki anak. Kata-kata ini akan keluar saat anak berbicar, bercanda atau ketika ia marah.

 

  1. Senang berbicara atau bercanda “jorok” – Percakapan atau diskusi dengan topik terkait seksual memang baik selama itu dalam konteks pendidikan dan dengan tetap berpegang pada etika. Dewasa ini, semakin banyak orang yang tertarik dengak topik seksual karena memang sangat dibutuhkan. Akan tetapi jika topik seksual dibicarakan secara sembrono tanpa etika, tentu persoalannya menjadi lain. Inilah yang dimaksud dengan “jorok”. Anak yang mengalami adiksi pornografi punya kecenderungan sangat tertarik berbicara atau bercanda “jorok”.

 

  1. Senang menyentuh bagian tubuh yang merupakan area pribadi orang lain – Pada tubuh manusia ada yang disebut dengan area pribadi, yakni leher, area di sekitar dada (termasuk payudara), perut, paha, kemaluan dan bokong. Area pribadi hanya boleh dilihat dan disentuh oleh orang yang bersangkutan. Menyentuh area pribadi orang lain tanpa izin dari si empunya tubuh adalah perilaku yang tidak sopan dan dapat dipidana karena dianggap sebagai pelecehan seksual, perbuatan cabul atau perbuatan yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, setiap kita wajib menghargai hak orang lain dengan tidak melihat atau menyentuh area pribadi dari tubuh orang lain. Anak yang sudah terpapar pornografi sepertinya tidak menghiraukan etika ini sekalipun sudah tahu dan sudah mendapatkan pendidikan seksual dari orangtua atau gurunya. Ada saja cara yang ia lakukan untuk dapat melihat atau menyentuh area pribadi orang lain. Misalnya mengintip orang sedang ada di kamar mandi, mengintip orang yang ia ketahui sedang berganti pakaian, menyentuh area pribadi orang saat berbicara atau bercanda. Bahkan, dapat dengan tiba-tiba menyentuh area pribadi orang lain walaupun tidak sedang ngobrol atau bercanda.

 

  1. Sangat senang bermain games – Bagi banyak orang bermain games adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Menurut beberapa literasi bermain games dapat memberikan stimulasi positip pada perkembangan otak. Walaupun demikian, bermain games tentu ada aturannya, baik konten, waktu maupun durasinya. Dalam banyak kasus, anak-anak yang adiksi pornografi sangat senang bermain games karena ternyata games yang mereka mainkan adalah games berkonten pornografi. Jika tidak waspada, kita akan kecolongan sehingga anak jatuh pada pornografi dan mengalami adiksi. Jadi sangat perlu berhati-hati termasuk dalam menyeleksi games yang boleh dimainkan oleh anak.

 

  1. Memandang dengan “pandangan mesum” – “Pandangan mesum” adalah pandangan dengan penuh hasrat seksual yang liar dan tak senonoh. Tentu tak seorangpun mau dipandang dengan pandangan/tatapan seperti ini. Bagi banyak orang, dipandang dengan pandangan mesum merupakan bentuk pelecehan seksual. Banyak anak yang sudah adiksi pornografi terutama anak yang berusia remaja (belasan tahun) memiliki kecenderungan memandang dengan cara ini terutama pada seseorang yang ia anggap menarik. Dalam banyak kasus, mereka sampai membayangkan jika orang yang mereka tatap itu tidak berpakaian. Tidak hanya itu, mereka sampai membayangkan melakukan hubungan badan dengan orang itu. Hal ini tentu sangat berbahaya karena sangat mungkin menjadu melakukan tindak pidana perkosaan.

 

  1. Tidak dapat mengatur waktu dengan baik – Adiksi pornografi sudah pasti membuat anak tidak dapat mengatur waktu dengan baik. Semua kegiatan dan tugas terbengkalai. Perhatian anak hanya pada hal-hal yang menyangkut pornografi, misalnya bermain games yang berkonten porno atau menonton video porno.

 

  1. Pola tidur berantakan – Anak yang adiksi terhadap pornografi biasanya memiliki pola tidur yang berantakan. Misalnya: Hari ini tidur menjelang matahari terbit atau bahkan tidak tidur sama sekali. Ini terjadi karena anak terlalu asyik dengan pornografinya. Akibatnya, wajah kuyu, tidak mandi saat ke sekolah, tubuh berbau tidak sedap, mengantuk bahkan tertidur di kelas.

 

  1. Pola makan tidak teratur – Pola makan yang tidak teratur akan mengganggu kesehatan bahkan dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh. Anak yang adiksi terhadap pornografi pada umumnya memiliki pola makan yang tidak teratur. Mereka terlalu tenggelam dengan kegiatan pornografi mereka sehingga tak menghiraukan kebutuhan tubuhnya akan makanan, minuman, gerak maupun istirahat.

 

  1. Banyak keluhan dari sekolah – Anak yang mengalami adiksi pornografi biasanya sering mendapat keluhan dari guru/sekolah. Keluhan tersebut antara lain: mengantuk di kelas, tidak konsentrasi saat belajar, PR tidak dikerjakan, berperilaku buruk, nilai-nilai menurun, melawan guru dan melanggar peraturan sekolah serta terancam tidak naik kelas.

Mencegah memang lebih baik dari pada mengobati, tetapi seringkali hal ini tak dapat dilakukan. Jika pada anak didapati salah satu atau beberapa tanda dari yang dijelaskan di atas, janganlah menunda mencari pertolongan! Carilah pertolongan dari ahli agar anak segera mendapatkan pertolongan! (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment