Minggu (23/3/2025)
Pengasuh yang bekerja dengan anak-anak tunanetra dan tunanetra majemuk memiliki peran penting dalam mendampingi, merawat, dan mendidik mereka. Tunanetra majemuk mengacu pada kondisi anak yang tidak hanya mengalami gangguan penglihatan tetapi juga memiliki disabilitas tambahan, seperti autisme. Anak dengan kondisi ini sering menghadapi tantangan dalam memahami instruksi, beradaptasi dengan perubahan, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengasuh tidak hanya dituntut untuk memberikan perawatan fisik, tetapi juga harus memiliki keterampilan dalam membimbing anak dalam proses belajar dan pengembangan diri. Untuk mendukung tugas ini, pelatihan yang terstruktur sangat diperlukan agar pengasuh dapat memberikan pendampingan yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan anak asuh.
Pelatihan ini bertujuan untuk membekali pengasuh dengan metode pengajaran yang sesuai dengan karakteristik anak-anak tunanetra dan tunanetra majemuk. Pengasuh akan mempelajari teknik pembelajaran multisensori yang melibatkan stimulasi suara, sentuhan, dan gerakan untuk membantu anak memahami konsep akademik dengan lebih baik. Selain itu, pelatihan ini juga akan mengajarkan cara menangani tantangan dalam pembelajaran, seperti meningkatkan fokus anak dengan strategi berbasis rutinitas, mengelola perilaku dengan pendekatan yang tepat, serta membangun komunikasi yang efektif, baik secara verbal maupun nonverbal. Pengasuh juga akan dilatih untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, terstruktur, dan mendukung perkembangan anak secara optimal, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih mandiri dan merasa lebih percaya diri dalam aktivitas sehari-hari.
Pengasuh yang memiliki wawasan dan keterampilan yang memadai tidak hanya akan lebih percaya diri dalam menjalankan tugasnya, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi anak asuh. Anak-anak yang didampingi oleh pengasuh terlatih cenderung mengalami perkembangan lebih baik dalam keterampilan akademik, sosial, dan emosional. Dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat belajar lebih efektif, mengembangkan kemandirian, serta merasa lebih nyaman dan aman dalam proses pembelajaran. Keahlian pengasuh dalam menangani anak tunanetra dengan autisme juga dapat membantu mengurangi kecemasan anak akibat perubahan rutinitas, menangani perilaku seperti tantrum, serta mendorong mereka untuk lebih aktif dalam berkomunikasi dan bersosialisasi.
Memahami pentingnya peran pengasuh dalam kehidupan anak tunanetra dan tunanetra majemuk, Yayasan Elsafan Jakarta menyelenggarakan pelatihan khusus pada Kamis, 20 Maret 2025, dengan Trainer Susi Rio Panjaitan. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pengasuh dalam menangani berbagai tantangan serta memberikan dukungan optimal bagi anak-anak yang mereka dampingi. Dengan keterampilan yang lebih baik, pengasuh dapat menjadi fasilitator utama dalam membantu anak mencapai perkembangan terbaik mereka, baik dalam aspek akademik maupun sosial.
