Oleh: Susi Rio Panjaitan
Autisme menyebabkan orang yang menyandangnya menghadapi tantangan khusus ketika berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain, berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan, mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi, memahami aturan sosial, memahami emosi orang lain, serta berperilaku. Hal ini terjadi karena adanya gangguan perkembangan neurologis yang mengakibatkan cara kerja otak orang dengan autisme berbeda dengan cara kerja otak orang yang tidak dengan autisme. Autisme bukan penyakit dan tidak menular. Autisme melekat seumur hidup pada orang yang menyandangnya. Terjadinya autisme pada individu bukan sesuatu yang perlu disesali, diratapi, apalagi dikutuki. Dengan penerimaan yang penuh cinta kasih tanpa syarat, lingkungan yang kondusif, tatalaksana yang tepat, dan memberi kesempatan seluas-luasnya untuk belajar dan berlatih, individu dengan autisme dapat berkembang dengan sangat baik, berkarya, berprestasi, hidup mandiri, serta dapat berpartisipasi aktif dan berkontribusi positif dalam masyarakat.
Sama halnya dengan anak lain, anak autis juga bertumbuh dan berkembang pada aspek fisik dan psikis. Ketika memasuki usia tertentu (biasanya usia awal belasan), mereka memasuki masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pubertas akan berpengaruh pada seksualitas remaja autis. Pada saat itu, organ seksual dan reproduksi menjadi matang dan terjadi perubahan kadar hormon dalam tubuh. Hal ini membuat mereka menjadi matang secara seksual dan reproduktif. Selain mengalami perubahan fisik yang signifikan, remaja autis juga mengalami perubahan emosional dan cara berpikir. Ketidakstabilan dalam emosi sering disebut sebagai salah satu karakteristik remaja. Ini pun terjadi pada remaja autis.
Selain itu, kondisi khusus pada remaja autis membuat mereka mengalami problema dalam seksualitas. Hal ini sangat terkait dengan cara dan kemampuan mereka dalam berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain, berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan, mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi, memahami aturan sosial, memahami emosi orang lain, serta berperilaku. Remaja autis dengan hambatan penyerta, misalnya retardasi mental, akan menghadapi problema yang lebih kompleks. Problema seksualitas pada remaja autis antara lain sebagai berikut:
Tidak Terampil dalam Bina Diri
Ketidakterampilan remaja autis dalam bina diri menimbulkan problema seksualitas pada remaja. Misalnya: ketidakmampuan membersihkan diri dan organ intim dengan baik terutama dalam kondisi tertentu (ketika menstruasi, atau saat keluar lelehan air mani). Hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan reproduksi pada remaja autis. Selain itu, ketidakterampilan dalam bina diri membuat remaja autis bergantung pada pertolongan orang lain ketika cebok dan mandi. Sentuhan-sentuhan pada bagian tertentu di tubuh dan organ intim dapat menimbulkan sensasi tertentu pada remaja autis dan berisiko menimbulkan masalah. Selain itu, kondisi membuat mereka rentan mengalami kejahatan seksual.
Tidak Mampu Membedakan Mana yang Privasi dan Mana yang boleh Dikonsumsi Publik
Banyak remaja autis yang tidak mampu membedakan mana yang privasi dan mana yang boleh dikonsumsi publik. Misalnya: tidak memahami bahwa tubuhnya (terutama area pribadi seperti bibir, leher, dada, payudara, perut, alat kelamin, paha dan bokong) tidak boleh dilihat dan disentuh siaapa pun dengan sembarangan. Mereka juga tidak memahami bahwa bagian tertentu dari tubuh orang lain juga tidak boleh mereka lihat dan sentuh dengan sembrono. Itulah sebabnya, remaja autis tidak merasa ada yang salah ketika ia telanjang keluar dari kamar tidur atau kamar mandi, dengan santai remaja laki-laki mengeluarkan kemaluannya dan menggaruknya di depan umum, dan remaja perempuan melepas pembalut kotor dari celana di depan orang ketika merasa tidak nyaman dengan keberadaan pembalut tersebut di celananya. Melepas pembalut kotor dari celana dan menggaruk kemaluan ketika dirasa gatal bukanlah hal yang salah, tetapi tidak tepat jika dilakukan di depan publik.
Tidak Memahami Aturan Sosial
Salah satu yang umum terjadi ketika individu memasuki masa remaja adalah tertarik kepada lawan jenis atau sering disebut dengan naksir atau jatuh cinta, dan disukai atau ditaksir oleh orang lain. Kondisi taksir menaksir dan jatuh cinta adalah hal yang biasa di kalangan remaja. Hanya, mereka harus tahu bagaimana mengelola “rasa” tersebut dan tahu bagaimana merespon orang dengan tepat. Remaja autis mengalami hambatan dengan hal ini. Ketika mereka suka dengan seseorang, sangat mungkin mereka memaksa atau menjadi posesif. Hal ini tentu membuat orang lain merasa tidak nyaman dan tidak aman. Ketika remaja autis ditaksir/disukai oleh seseorang, mereka juga tidak mampu merespon dengan tepat sehingga berisiko menimbulkan sakit hati, salah paham, kemarahan, kebencian, bahkan dendam. Ini akan memberi pengaruh negatif pada relasi remaja autis dengan orang tersebut dan masalah lainnya.
Tidak Memahami Konsep Malu
Rasa malu yang tidak ingin ditanggung sering kali menjadi faktor yang membuat orang berpikir dengan cermat sebelum melakukan atau mengatakan sesuatu. Remaja autis tidak memiliki pemahaman yang tepat tentang konsep malu. Ketidakpahaman akan konsep malu membuat remaja autis kerap melakukan hal-hal yang menurut orang lain memalukan. Misalnya: telanjang di depan orang lain, menggaruk-garuk kemaluan di depan orang, buang air kecil atau buang air besar bukan di toilet, atau di toilet tetapi dengan pintu yang terbuka lebar. Anak kecil saja jika melakukan ini dianggap masalah, apalagi jika yang melakukan adalah remaja.
Tidak Mampu Mengenali Libido Diri Sendiri
Libido adalah bagian yang wajar dalam diri individu, terutama individu yang sudah matang secara seksual. Invidu perlu mengenali libidonya sendiri. Dengan mengenal libidonya, maka individu dapat mengelolanya dengan baik sehingga tidak merugikan dirinya dan orang lain. Remaja autis mengalami hambatan dalam mengenali libidonya sendiri.
Hambatan dalam Manajemen Libido
Libido harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah terhadap diri sendiri dan orang lain. Misalnya berolahraga, melakukan aktivitas fisik, serta mengalihkan perhatian dan pikiran kepada hal yang positif. Kemampuan manajemen libido tidak ada pada remaja autis. Jadi, jika libidonya aktif, sangat mungkin ia melakukan perilaku seksual yang tidak tepat. Misalnya, remaja autis perempuan memasukkan sesuatu ke lubang vaginanya, remaja autis laki-laki menggosok-gosokkan alat kelaminnya kepada benda-benda tertentu atau tubuh orang lain. Hal ini menjadi semakin parah jika sebelumnya remaja autis terpapar pornografi.
Mengalami Hambatan dalam Berperilaku Efektif dan Adaptif
Hambatan dalam berperilaku efektif dan adaptif merupakan salah satu tantangan yang dihadapi remaja autis. Hal ini dapat menjadi salah satu probelma seksualitas remaja. Misalnya: ketika remaja autis tertarik dengan area pribadi orang lain (misalnya payudara, alat kelamin, bokong), maka sangat mungkin mereka memegang area pribadi orang lain. Hal ini tentu berisiko menimbulkan masalah lain. Misalnya: anak dipukul oleh orang tersebut, dipolisikan, dan lain sebagainya.
Hambatan dalam Mengenali Bahaya dan Melindungi Diri
Kemampuan remaja autis dalam mengenali bahaya dan melindungi diri sangat rendah bahkan nyaris tidak ada. Padahal, ketika remaja, tubuh anak autis bertumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya orang lain. Tubuh remaja memiliki daya pikat yang khas. Hal ini membuat mereka berisiko mengalami kejahatan seksual. Ketidakmampuan remaja autis dalam mengenali bahaya dan melindungi diri membuat mereka rentan menjadi korban kejahatan seksual.
Problema seksualitas pada remaja autis tidak enteng. Oleh karena itu, anak autis harus dipersiapkan sedemikian rupa dalam memasuki masa remaja dan pubertas. (SRP)

How can parents and educators support autistic teenagers in learning about healthy sexuality?