Rabu (1/6/2025)
Anak-anak masa kini, terutama Generasi Alpha, tumbuh di tengah kemajuan teknologi, informasi yang cepat, serta tantangan sosial yang kompleks. Mereka sering digambarkan sebagai generasi stroberi, menawan dan cemerlang, namun mudah “lecet/memar” secara emosional. Anak-anak ini sangat peka terhadap kata-kata dan perlakuan orang dewasa di sekitar mereka. Mereka tidak hanya membutuhkan kasih sayang, tetapi juga pendampingan yang penuh empati dan pengakuan atas perasaan mereka. Karena itu, pola asuh lama yang mengandalkan kekerasan verbal, tuntutan berlebihan, atau menyalahkan anak atas segala kesalahan perlu ditinjau ulang.
Dalam mendidik anak, orangtua memiliki peran krusial sebagai pembimbing dan pelindung. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa orangtua bertanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak sesuai minat dan bakatnya, serta melindungi mereka dari kekerasan fisik, psikis, penelantaran, dan perlakuan salah lainnya. Ketika anak dijadikan sasaran kemarahan atau dianggap penyebab masalah dalam keluarga, maka itu dapat dikategorikan sebagai kekerasan psikis. Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan rasa tidak aman, cemas, dan merasa dirinya selalu salah.
Pola asuh yang sehat bukan berarti tanpa aturan, namun menyeimbangkan antara disiplin dan pengertian. Anak perlu dibimbing dengan komunikasi yang jelas, kasih sayang yang konsisten, serta ruang untuk mengekspresikan diri. Ketika anak melakukan kesalahan, tugas orangtua bukan menyalahkan, melainkan membantu anak belajar dan bertumbuh dari pengalaman tersebut. Kalimat sederhana seperti “Bukan kamu penyebabnya” bisa menjadi penyejuk bagi anak yang tengah bergumul dengan emosi dan rasa tanggung jawab yang tidak semestinya ia pikul.
Untuk mendalami hal ini, GKI Keb. Baru Gunung Sindur, Bogor menyelenggarakan seminar parenting bertema “Bukan Kamu Penyebabnya” pada Minggu, 1 Juni 2025. Seminar ini menghadirkan Susi Rio Panjaitan, mengajak para orangtua memahami pentingnya membangun relasi yang sehat dengan anak berdasarkan pendekatan psikologis dan hukum. Diharapkan melalui seminar ini, orangtua lebih sadar bahwa anak membutuhkan bimbingan yang aman secara emosional, bukan tekanan atau tuduhan, dalam tumbuh kembang mereka.
